TribunSolo/

Deklarasi Masyarakat Indonesia Anti Hoax

Olga Lydia dan Giring Nidji Dukung Gerakan Masyarakat Indonesia Anti-Hoax

Deklarasi gerakan ini tidak hanya dilakukan di Jakarta, tetapi juga beberapa kota lain seperti Surabaya, Semarang, Solo, Wonosobo, dan Bandung.

Olga Lydia dan Giring Nidji Dukung Gerakan Masyarakat Indonesia Anti-Hoax
KOMPAS.COM/DAVID OLIVER PURBA
Menteri Kominfo Rudiantara, Giring "Nidji", Olga Lydia, Komaruddin Hidayat, dan sejumlah tokoh lain, mendeklarasikan gerakan "Masyarakat Indonesia Anti-Hoax" di Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Minggu (8/1/2017) pagi. 

TRIBUNSOLO.COM, JAKARTA - Menyikapi banyaknya konten palsu di media sosial, sekelompok masyarakat berinisiatif membentuk sebuah gerakan bernama "Masyarakat Indonesia Anti-Hoax".

Gerakan itu terdiri dari unsur akademisi, publik figur, dan netizen.

Ketua Masyarakat Indonesia Anti-Hoax, Septiaji Eko Nugroho, menjelaskan, gerakan tersebut dibentuk untuk mengajak masyakat lebih kritis menyikapi konten berita di media sosial.

Sebab, kata Septiaji, konten palsu itu bisa menjadi alasan terjadinya kerusuhan secara fisik pada kehidupan nyata.

"Hoax bukan saja menghabiskan energi, tetapi juga berpotensi mengganggu keamanan nasional," ujar Septiaji seusai deklarasi di Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Minggu (8/1/2017) pagi.

Septiaji mengatakan, sejumlah upaya telah dilakukan gerakan ini untuk memulai sebuah gerakan anti "hoax", salah satunya penandatangan piagam anti-hoax.

Sejumlah tokoh yang telah bergabung dalam gerakan ini, kata Septiaji, antara lain, Azyumardi Azra, Komaruddin Hidayat, serta beberapa akademisi lainnya.

Deklarasi gerakan ini tidak hanya dilakukan di Jakarta, tetapi juga beberapa kota lain seperti Surabaya, Semarang, Solo, Wonosobo, dan Bandung.

Gerakan itu juga dihadiri salah satu publik figur, Olga Lydia.

Olga menilai, konten-konten "hoax" sudah dirasakan sejak Pilpres 2014.

Penyebaran konten palsu itu, menurut dia dilatarbelakangi berbagai motif seperti politik, bahkan motif bisnis untuk mencari uang.

"Keterlibatan pertama adalah mengajak masyarakat untuk tahan jempol dan tidak mudah percaya berita, harus diverifikasi lagi."

"Kritisi masuk akal atau tidak, kalau tidak sempat cari tahu jangan di-share," ujar Olga.

Deklarasi juga dihadiri Menteri Komunikasi dan Informatika, Rudiantara, dan pentolan band Nidji, Giring Ganesha, serta sejumlah artis. (Kompas.com/David Oliver Purba)

Penulis: Admin
Editor: Junianto Setyadi
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help