Sidang Kasus Ahok

Setelah Dilarang, Persidangan Ahok Boleh Disiarkan Langsung Televisi Pekan Depan

Sidang ke-18 kasus penodaan agama atas terdakwa Gubernur non-aktif DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama(Ahok) akan digelar pada Selasa (11/4/2017).

Setelah Dilarang, Persidangan Ahok Boleh Disiarkan Langsung Televisi Pekan Depan
POOL / SAFIR MAKKI
Gubernur Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama, hadir dalam sidang perdana kasus penistaan agama di Pengadilan Jakarta Utara, Jalan Gajah Mada, Jakarta, Selasa (13/12/2016). Ahok ditetapkan menjadi tersangka karena mengutip ayat suci saat menyampaikan sambutan di hadapan warga Kepulauan Seribu. 

TRIBUNSOLO.COM, JAKARTA - Sidang ke-18 kasus penodaan agama atas terdakwa Gubernur non-aktif DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama(Ahok) akan digelar pada Selasa (11/4/2017).

Sidang tersebut boleh disiarkan secara langsung oleh stasiun televisi.

Sidang pada pekan depan itu berbeda dengan persidangan-persidangan sebelumnya, yakni ada larangan proses sidang disiarkan secara langsung.

Terkait hal itu, Ketua Komisi Yudisial (KY), Aidul Fitriciada Azhari menjelaskan, persidangan sebelumnya terkait pembuktian.

Oleh karena itu sedianya memang tidak disiarkan secara langsung.

Menurut Aidul, tujuan larangan disiarkannya proses sidang secara langsung agar keterangan yang disampaikan oleh seorang saksi tidak diketahui oleh saksi lain.

Sebab, saksi lain itu nantinya juga dihadirkan dalam persidangan.

"Yang tidak boleh kan pada masa pembuktian karena takut mempengaruhi saksi yang lain," ujar Aidul usai menghadiri acara Konferensi Etika Nasional di Hotel Borobudur, Jakarta, Rabu (5/4/2017).

Ia mengatakan, KY pun menjadi salah satu pihak yang saat itu menyarankan agar proses sidang tidak disiarkan secara langsung.

Menurut Aidul, jika seorang saksi telah diketahui mengikuti proses sidang maka hakim bisa menolak kesaksian orang tersebut.

Hal itu terjadi pada kakak angkat Ahok, yakni Andi Analta Amier.

Ia tidak jadi memberikan kesaksian lantaran pernah hadir dalam persidangan.

"Karena dikhawatirkan saksi yang akan dihadirkan berikutnya mengetahui keterangan saksi sebelumnya dan kalau misalnya mengetahui kan tidak bisa diterima oleh hakim," ujarnya. (Kompas.com/Fachri Fachrudin)

Editor: Daryono
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved