Mantan Presiden Afganistan Ini Sebut ISIS Alat Amerika Serikat, Begini Alasannya

MOAB dirancang bukan untuk dibawa jet tempur, tapi untuk pesawat pengangkut sekelas C-130 Hercules, MC-130E Combat Talon I, atau Combat Talon II.

Mantan Presiden Afganistan Ini Sebut ISIS Alat Amerika Serikat, Begini Alasannya
KOMPAS.com/AP PHOTO
Mantan Presiden Afghanistan, Hamid Karzai, di Kabul, Afghanistan (17/4/2017). 

TRIBUNSOLO.COM, KABUL - Mantan Presiden Afganistan, Hamid Karzai, menyebut kelompok teroris Negara Islam di Irak dan Suriah ( ISIS) adalah “alat” Amerika Serikat (AS).

Dia juga membantah kecaman Rusia atas keterkaitannya dengan Taliban, dan upaya-upaya untuk membawa kelompok radikal itu ke dalam perundingan damai.

“Setelah AS mengebom Afganistan, AS tidak memusnahkan ISIS,” kata Karzai merujuk pada serangan bom MOAB terhadap ISIS.

Adapun MOAB adalah sebutan pendek untuk GBU-43/B Massive Ordnance Air Blast Bomb, yaknisebuah bom besar konvensional yang dikembangkan oleh Albert L.Weimort, Jr untuk Militer AS.

Bom ini pun dijuluki sebagai "Mother of All Bomb" alias induk segala bom.

Sebab, jenis bom ini disebut-sebut sebagai bom nonnuklir paling kuat yang pernah ada.

MOAB dirancang bukan untuk dibawa jet tempur, tapi untuk pesawat pengangkut sekelas C-130 Hercules, MC-130E Combat Talon I, atau Combat Talon II.

Serangan pekan lalu untuk pertama kalinya digunakan AS dalam perang sesungguhnya.

Bom itu dijatuhkan di kawasan pegunungan terpencil di Provinsi Nangarhar, lokasi perlindungan teroris ISIS.

“Saya menganggap ISIS alat mereka (AS),” ujar Karzai dalam wawancara eksklusif Associated Press di Kabul, Rabu (19/4/2017).

“Saya sama sekali tidak membedakan antara ISIS dan AS,” katanya menambahkan.

Militer AS selama ini bekerja sama dengan pasukan Afganistan.

Mereka berjanji untuk menumpas teroris ISIS di negara itu tahun 2017 ini.

AS pun mengaku bakal menghambat kebangkitan Taliban.

Militer AS menunjukkan keberhasilan mereka di medan pertempuran baru-baru ini atas kedua kelompok itu. (Kompas.com/Glori K Wadrianto)

Editor: Junianto Setyadi
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help