TribunSolo/

Tidak Ada Istilah Anak Bodoh, Tiap Anak Bakal Berprestasi Bila Punya Motivasi

Memang anggapan kecerdasan dari turunan itu tidak sepenuhnya keliru karena keluarga berperan juga dalam menjadikan anak cerdas.

Tidak Ada Istilah Anak Bodoh, Tiap Anak Bakal Berprestasi Bila Punya Motivasi
Shutterstock
Ilustrasi. 

TRIBUNSOLO.COM -- Banyak yang menganggap kepintaran adalah faktor bawaan, sebuah warisan dari kedua orangtua yang juga berotak encer.

Kalau ini jadi acuan, mengapa ada naak jenius dengan berbagai penghargaan olimpiade lahir dari kedua orangtua yang buta huruf, mengapa peraih nilai ujian nasional tertinggi di tanah air didapat dari anak yang orangtuanya petani sederhana di sebuah pelosok desa?

Memang anggapan kecerdasan dari turunan itu tidak sepenuhnya keliru karena keluarga berperan juga dalam menjadikan anak cerdas.

Namun, asal tahu saja, faktor lingkungan juga berperan besar dalam menjadikan anak yang smart.

Demikian juga dengan faktor motivasi, baik motivasi dari orangtua maupun motivasi dari diri sendiri si anak menjadikannya sukses dan berprestasi.

Hal lain yang perlu diingat, kecerdasan itu tidak sederhana.

Bila kita bertanya, "Apakah anak saya cerdas?", sebenarnya jawabannya bukan cuma menyangkut soal IQ (intelligence Quotion).

Definisi kecerdasaan sekarang ini sudah berkembang.

Sebenarnya, ada berbagai jenis kecerdasan.

Renzeeli, seorang pakar kecerdasan, berpendapat, kecerdasan anak berkaitan dengan tiga hal, yaitu kemampuan umum, kreativitas, dan motivasi diri terhadap tugas.

Ketiganya sangat penting.

Sebab, meski seseorang punya potensi intelektual dan kreativitas sangat tinggi, tapi bila dalam menghadapi masalah atau tugas kurang menunjukkan motivasi, maka akan kurang berhasil.

Tapi mereka yang memiliki kemampuan dan kreativitas sedang-sedang saja namun punya motivasi di atas rata-rata, maka dia adalah anak yang berpotensi.

Pakar lain, Manks, menambahkan, lingkungan merupakan faktor pendukung penting bagi kecerdasan anak.

Lingkungan yang dimaksud adalah keluarga, tempat di mana pada 5 tahun pertama anak menghabiskan dan melalui masa kritis perkembangannya.

Baru kemudian lingkungan sekolah dan teman sebaya.

Halaman
1234
Editor: Hanang Yuwono
Sumber: Nakita
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help