TribunSolo/
Home »

News

» Jakarta

Polair dan Bea Cukai Sita 6.900 Botol Miras Bermerek Terkenal, Nilai Totalnya Rp 2,5 Miliar

Seb anyak 6.900 botol miras ilegal itu diselundupkan dari Malaysia dan Singapura melalui Pelabuhan Kijang di Batam, Kepulauan Riau.

Polair dan Bea Cukai Sita 6.900 Botol Miras Bermerek Terkenal, Nilai Totalnya  Rp 2,5 Miliar
Ridwan Aji Pitoko/KOMPAS.com
Ditpolair Baharkam Polri menggagalkan penyelundupan 6.900 botol miras ilegal dan 58 pak cerutu dari Malaysia dan Singapura melalui Pelabuhan Kijang, Kepulauan Riau. 

TRIBUNSOLO.COM, JAKARTA - Sebanyak 6.900 botol minuman keras (miras) ilegal disita Ditpolair Baharkam Polri dan Bea Cukai Jakarta.

Semua miras itu diperkirakan bernilai sekitar Rp 2,5 miliar.

"Nilai barangnya ini secara keseluruhan mencapai Rp 2,5 miliar," kata Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Bea Cukai Jakarta, Oentarto Wibowo, dalam konferensi pers di Baharkam Polair Tanjung Priok, Jakarta, Sabtu (12/8/2017).

Botol-botol miras tersebut disita kepolisian dan Bea Cukai Jakarta dari delapan orang yang diciduk di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, pada 5 Agustus 2017.

Menurut Direktur Korpolairud Baharkam Polri, Brigjen Pol Lotharia Latif, ke-6.900 botol miras ilegal itu diselundupkan dari Malaysia dan Singapura melalui Pelabuhan Kijang di Batam, Kepulauan Riau.

"Semuanya ini bukan oplosan, melainkan miras bermerek terkenal."

"Penyelundupan ini terjadi kemungkinan karena ada kelompok tertentu yang memanfaatkan kebijakan baru untuk memaksimalkan pemasukan cukai dan pajak dari barang-barang seperti itu," papar Latif.

Kendati sudah mengamankan delapan orang, Latif mengatakan, kepolisian belum menetapkan mereka sebagai tersangka.

Seluruhnya masih berstatus sebagai saksi.

"Semuanya masih dalam penyidikan, termasuk siapa pemiliknya, mau didistribusikan ke mana miras, sampai apakah para saksi tahu yang dibawanya adalah miras."

"Ini semua masih kami teliti dan selidiki," kata Latif. (6.900 Botol Miras yang Disita Polair di Jakut Bernilai Rp 2,5 Miliar/Kompas.com/Ridwan Aji Pitoko)

Editor: Junianto Setyadi
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help