Budaya Malu Ubah Kampung Preman di Jetis, Yogyakarta, Jadi Kampung Wisata Edukatif

Menurutnya, stigma sebagai "Kampung Preman" yang melekat sejak lama bisa berubah dengan pemberdayaan masyarakat melalui gerakan membangun budaya malu.

Budaya Malu Ubah Kampung Preman di Jetis, Yogyakarta, Jadi Kampung Wisata Edukatif
TribunSolo.com/Imam Saputro
Dosen Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat Desa (STPMD) "APMD" Yogyakarta, Dr. Yuli Setyowati saat mempertahankan disertasi berjudul "Model Pemberdayaan Masyarakat Kampung Preman dalam Masyarakat Komunikatif Guyub Rukun", Kamis (31/8/2017). 

"CSR perusahaan memang bukan satu-satunya penentu perubahan masyarakat,”katanya.

Namun CSR, ia nilai menjadi akselerator bagi tumbuhnya kesadaran dan perubahan pola pikir yang lebih kuat di masyarakat.

Baca: 18 Orang Susah Payah Sembelih Sapi Satu Ton Sumbangan Presiden Jokowi

“Faktor utama yang mengubah masyarakat tidak lepas dari kemauan masyarakat itu sendiri dan dukungan pemangku kepentingan,” tegasnya.

Namun Yuli juga mengatakan jika model pemberdayaan di kampung Badran belum tentu cocok diterapkan di kampung lain.

Dia mengingatkan, karakteristik dan kondisi psikologis masyarakat di setiap wilayah berbeda-beda dan sangat tergantung dinamika masyarakatnya.

"Banyak faktor yang mempengaruhi perubahan masyarakat, karena masalah sosial terlalu kompleks dan bergerak sangat dinamis,” pungkasnya.(*)

Penulis: Imam Saputro
Editor: Hanang Yuwono
Sumber: TribunSolo.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved