TribunSolo/
Home »

Solo

Ini Alasan BNPT Gandeng Mantan Teroris untuk Kurangi Radikalisme

Peningkatan aktivitas ini disinyalir dapat menjadi tempat potensial berkembangnya aktivitas keagamaan yang eksklusif dan radikal.

Ini Alasan BNPT Gandeng Mantan Teroris untuk Kurangi Radikalisme
TribunSolo.com/Imam Saputro
Direktur Pencegahan Badan Nasional Pencegahan Terorisme (BNPT), Brigjen Pol . Ir Hamli , ME di Solo, Rabu (13/9/2017). 

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Imam Saputro

TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Badan Nasional Pencegahan Terorisme (BNPT) sering menggandeng mantan teroris dalam mengurangi ataupun menangkal radikalisme di kampus.

"Karena kalau saya yang cerita soal bom, soal paham teroris, banyak yang nggak percaya, tapi kalau yang cerita mantan pelaku akan berbeda," kata Direktur Pencegahan Badan Nasional Pencegahan Terorisme (BNPT), Brigjen Pol . Ir Hamli , ME di Solo, Rabu (13/9/2017).

"Mereka yang pernah didalam akan lebih meyakinkan untuk bercerita bahwa paham yang mereka anut itu salah," tegasnya.

Baca: Pejabat BNPT Ini Sebut Teroris Senantiasa Manfaatkan Bulan Ramadan untuk Beraksi

Menurutnya, BNPT sengaja mengajak mantan pelaku karena memang efektif untuk bersama-sama mencegah terorisme.

Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Tengah bersama Lembaga Dakwah Kampus (LDK) wilayah Solo Raya berdialog untuk pencegahan terorisme sejak dini di Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Rabu (13/9/2017).

Temanya, Dialog Pelibatan dan Birokasi Kampus dalam Pencegahan Terorisme melalui Forum koordinasi Pencegahan Terorisme.

Saat ini, aktivitas keagamaan di sejumlah kampus-kampus terutama kampus umum akhir-akhir ini terus meningkat.

Peningkatan aktivitas ini disinyalir dapat menjadi tempat potensial berkembangnya aktivitas keagamaan yang eksklusif dan radikal.

'Hal ini menjadikan perguruan tinggi umum lebih mudah menjadi target rekrutmen gerakan-gerakan radikal, dibandingkan perguruan tinggi berbasis keagamaan, " kata Hamli.

Ia mengatakan, hasil Penelitian Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) tahun 2011 menemukan pola-pola gerakan radikal di Indonesia salah satunya melalui penyusupan pada organisasi kemahasiswaan kampus.

Karenanya civitas akademika perguruan tinggi, khususnya Lembaga Dakwah Kampus (LDK) sangat strategis dilibatkan dalam pencegahan penyebaran radikalisme di kampus-kampus.

LDK dipandang paling dekat bersentuhan dengan masyarakat kampus, khususnya mahasiswa sebagai calon-calon pemimpin masa depan.(*)

Penulis: Imam Saputro
Editor: Hanang Yuwono
Sumber: TribunSolo.com
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help