TribunSolo/

Ini Risiko Ketika Ibu Menyusui Tetap Merokok

Semakin banyak rokok yang dihisap, akan mendatangkan risiko kesehatan yang semakin besar bagi ibu dan juga bayinya

Ini Risiko Ketika Ibu Menyusui Tetap Merokok
(ThinkStock)
Ilustrasi 

TRIBUNSOLO.COM - Hal pertama yang harus diinget adalah, ketidakmampuan untuk menghentikan kebiasaan merokok tidak lantas membuat seorang ibu harus berhenti menyusui.

Sudah pasti, lebih baik jika ibu menyusui tidak merokok.

Tapi, jika pun seorang ibu tidak bisa berhenti atau mengurangi rokok, maka lebih baik merokok dan tetap menyusui, daripada merokok dan memberi susu formula.

Semakin banyak rokok yang dihisap, akan mendatangkan risiko kesehatan yang semakin besar bagi ibu dan juga bayinya.

Apa yang terjadi pada bayi saat terpapar asap rokok?

Bayi dan anak-anak yang terpapar asap rokok memiliki risiko terkena pneumonia, asma, infeksi telinga, bronkitis, infeksi sinus, dan iritasi mata, yang jauh lebih tinggi.

Baca: Program Deddy Corbuzier Ditegur KPI Gara-gara Insiden Rokok, Netter : Acara Grepe-grepe Apa Kabar?

Lalu, kolik lebih sering terjadi pada bayi yang ibu atau ayahnya merokok, termasuk jika ibu menyusui dan merokok.

Kolik adalah kata yang digunakan untuk menggambarkan kondisi ketika bayi terus menangis tanpa sebab dan sulit dikendalikan.

Kolik biasanya terjadi pada bayi sehat yang berusia di bawah lima bulan, di mana ia bisa menangis hingga lebih dari tiga jam, selama kurang lebih tiga hari berturut-turut.

Halaman
1234
Editor: Putradi Pamungkas
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help