Setya Novanto Berpuisi di Akhir Pembacaan Nota Pembelaan, Isinya Tentang Pecundang yang Cuci Tangan

Diketahui dari kuasa hukum Setnov, Firman Wijaya, puisi itu dibuat khusus oleh sahabat Setya Novanto, Linda Djalil.

Setya Novanto Berpuisi di Akhir Pembacaan Nota Pembelaan, Isinya Tentang Pecundang yang Cuci Tangan
KOLASE TRIBUNSOLO.COM
Setya Novanto membacakan puisi. 

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Rika Apriyanti

TRIBUNSOLO.COM - Terdakwa dugaan kasus korupsi pengadaan e-KTP Setya Novanto (Setnov) telah membacakan pembelaan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi di PN Jakarta Pusat pada Jumat (13/4/2018).

Pledoi dibacakan setelah Jaksa dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menyampaikan tuntutan untuk Setnov.

Setnov dituntut hukuman penjara 16 tahun dan denda Rp 1 miliar oleh Jaksa.

Di akhir pembacaan nota pembelaan atau pledoinya, Setya Novanto meminta izin pada majelis hakim untuk membacakan puisi.

Baca: Kasus Pemerasan Video Tanpa Busana: Napi Sebut Petugas Lapas Terlibat, Wajib Setor Rp 40 Juta?

"Saya mau baca puisi, mohon diizinkan saya baca puisi yang mulia. Satu menit saja, puisi untuk Pak SN (Setya Novanto) dari Linda Djalil," ucap Setya Novanto seperti dilansir TribunSolo.com dari Tribunnews.com.

Seorang netizen pun memberikan tanggapan mengenai puisi berjudul 'Di Kolong Meja' yang ia bacakan.

@stelacnau: Puisi 'Di Kolong Meja' Setya Novanto ini menggambarkan perasaan orang yang merasa keadilan hanya tajam ke dirinya tapi tidak untuk mereka yg lain yg sama2 meraup untung di bawah kolong meja. Semoga untuk urusan E-KTP, KPK tidak berhenti hanya di Setya Novanto.

Diketahui dari kuasa hukum Setnov, Firman Wijaya, puisi itu dibuat khusus oleh sahabat Setya Novanto, Linda Djalil.

Halaman
12
Penulis: rika apriyanti
Editor: Hanang Yuwono
Sumber: TribunSolo.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved