Home »

Bisnis

» Makro

Disdag Klaim Pasar Tradisional di Surakarta Aman dari Bawang Merah Palsu

Sosialisasi pun telah dilakukan sekitar tiga hari yang lalu, sasarannya langsung ke pedagang serta tingkat pengepul dan pemasok.

Disdag Klaim Pasar Tradisional di Surakarta Aman dari Bawang Merah Palsu
TRIBUNSOLO.COM/GARUDEA PRABAWATI
Suasana Pedagang bawang merah di Pasar Legi Surakarta 

Laporan Wartawan Tribunsolo.com, Garudea Prabawati

TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Surakarta telah melakukan sosialisasi terkait adanya isu bawang merah palsu yang telah masuk di pasaran tradisional di Indonesia.

"Untuk wilayah Kota Solo ini sampai dengan saat ini terpantau aman," terang Kepala Disdag Surakarta, Subagiyo, kepada wartawan, Rabu (4/7/2018).

Sosialisasi pun telah dilakukan sekitar tiga hari yang lalu, sasarannya langsung ke pedagang serta tingkat pengepul dan pemasok.

Tujuannya memang menyiapkan antisipasi untuk menghadang bawang merah palsu ini masuk pasar-pasar di Kota Bengawan ini.

Baca: Pasca-Lebaran 2018, Harga Bawang Bombay di Pasar Tradisional di Solo Naik

Sosialisasi dimaksudkan untuk membentuk edukasi serta persepsi masyarakat terkait jenis bawang merah yang dikatakan palsu tersebut.

Subagiyo berujar, menurutnya bawang merah palsu tersebut merupakan bawang Bombai yang ukurannya kecil yakni di bawah lima cm.

"Dan memang harganya lebih murah dibandingkan harga bawang merah lokal," ujarnya.

Adapun ciri fisik dari bawang merah palsu dengan yang aslinya seperti warna pada umbinya yang cenderung putih.

Berbeda dengan bawang merah pada umumnya di mana warna umbinya merah keunguan.

Sedangkan perbedaan lainnya yakni dari aromanya karena aroma bawang merah asli lebih kuat dibandingkan dengan bawang merah palsu serta kandungan airnya pun tidak terlalu banyak.

Baca: Laga Perempat Final Piala Dunia 2018, Ini Daftar Sejumlah Pemain yang Bakal Absen

Dan dari ukuran memang lebih besar dari yang lokal.

Namun memang hampir mirip dengan bawang merah lokal asal Cepogo, Tawagmangu, Karanganyar, Jawa Tengah, namun tetap saja berbeda.

"Harapannya masyarakat pun juga tidak perlu khawatir, dan juga tetap mengerti perbedaannya," tutupnya. (*)

Penulis: Garudea Prabawati
Editor: Daryono
Sumber: TribunSolo.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help