Ciptakan Mesin Tetas Telur Berconveyor, Warga Jagalan Solo Ini Raih Juara Lomba Krenova Jateng

Andy mengaku gembira mesin tetas telor conveyor ciptaannya berhasil menjadi salah satu pemenang utama dalam lomba itu.

Ciptakan Mesin Tetas Telur Berconveyor, Warga Jagalan Solo Ini Raih Juara Lomba Krenova Jateng
Dok.Ist
Andy Hardiantono Kusuma Wijaya dengan mesin tetas telur sistem conveyor ciptaanya. 

TRIBUNSOLO.COM, SOLO – Andy Hardiantono Kusuma Wijaya, 57, warga Jagalan, Surakarta, dinobatkan sebagai salah satu dari sepuluh Pemenang Utama Lomba Kreativitas dan Inovasi Masyarakat (Krenova) yang diselenggarakan oleh Badan Perencanaan Pembangunan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Bappeda) Provinsi Jawa Tengah.

“Iya benar, surat pemberitahuan tenang pemenang lomba itu sudah kami terima."

"Salah satu pemenangnya Pak Andy Hardiantono yang memang kami kirimkan sebagai wakil dari Pemkot Solo,” kata Kepala Bappeda Solo Ir Ahyani, Sabtu (7/7/2018) dalam keterangan tertulis yang diterima TribunSolo.com. 

Surat pengumuman bernomor 072.1/14988 itu menyebutkan bahwa berdasarkan berita acara hasil pemilihan Lomba Krenova tanggal 4 Juni dan SK Gubernur Jateng No 050/30 Tahun 2018 tertanggal 26 Juni 2018 itu terdapat 10 Pemenang Utama, 10 Pemenang Harapan, dan 10 Pemenang Favorit.

Baca: Ketua Kadin Jateng Puji Sinergi Kadin Solo dengan Pemkot Solo

Salah satu Pemenang Utama adalah berasal dari Pemkot Surakarta atas nama Andy Hardiantono yang menciptakan mesin tetas telur berconveyor.

Andy mengaku gembira mesin tetas telor conveyor ciptaannya berhasil menjadi salah satu pemenang utama dalam lomba itu.

“Saya tentu saja mengucapkan terima kasih kepada Bappeda Solo yang telah memfasilitasi dan mensupport saya sehingga mesin tetas ciptaan saya ini dipilih sebagai salah satu pemenang,” katanya.

Menurut Andy, dia menciptakan mesin itu karena mesin tetas telur yang ada di Indonesia sekarang masih mempunyai banyak kekurangan, sehingga berdampak pada persentasi atau jumlah telur yang menetas sangat rendah.

Kekurangan mesin telur konvensional selama ini, menurut dia akibat kelembaban ruang mesin yang sangat rendah, rekayasa telur dengan memberdirikan telur saat menetaskan, pemutaran telur secara manual, dan candling telur yang harus dilakukan di luar ruang mesin.

Ke empat hal itulah yang menjadi penyebab persentasi menetasnya telur di dalam mesin tetas menjadi rendah.

Halaman
12
Penulis: Daryono
Editor: Daryono
Sumber: TribunSolo.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved