Cegah Peredaran Hoaks, WhatsApp Bakal Batasi Pesan yang Diteruskan Hanya pada 20 Kontak

WhatsApp harus banting tulang untuk menghalau hoaks yang mudah berceceran di platform tersebut.

Cegah Peredaran Hoaks, WhatsApp Bakal Batasi Pesan yang Diteruskan Hanya pada 20 Kontak
ISTIMEWA
Ilustrasi WhatsApp 

TRIBUNSOLO.COM - WhatsApp harus banting tulang untuk menghalau hoaks yang mudah berceceran di platform tersebut.

Perusahaan pesan instan ini belakangan mulai melabeli pesan terusan (forwarded), juga tautan yang dicurigai sebagai spam.

Tak cukup sampai disitu, dalam sebuah uji fitur terbaru, WhatsApp juga membatasi pesan yang diteruskan.

Apabila nanti telah diterapkan sepenuhnya, para pengguna WhatsApp di ranah global hanya akan bisa meneruskan pesan ke maksimal 20 kontak saja dalam satu waktu.

Ketua BEI Solo Sebut Kerugian Investasi Bodong Capai Rp 502 Triliun dalam 10 Tahun Terakhir

Sebelumnya, batasan jumlah kontak yang bisa menerima pesan terusan adalah 250.

Batasan baru dengan angka jauh lebih kecil pun diharapkan bisa menekan peredaran pesan berantai yang berpotensi sebagai hoaks.

Ada perlakuan khusus untuk India.

Para pengguna WhatsApp di negeri ini -yang jumlahnya mencapai 200 juta- hanya akan bisa meneruskan pesan ke lima kontak dalam satu waktu.

"Kami juga bakal menghapus tombol shortcut untuk meneruskan pesan, yang biasanya ada di samping konten media," sebut WhatsApp dalam sebuah posting blog terkait.

Penghapusan shortcut itu berlaku untuk aplikasi WhatsApp di India saja.

Pemkot Solo Siapkan Anggaran Rp 4 Miliar untuk Ganti Aspal Jl Jenderal Sudirman

WhatsApp belakangan memang mendapat sorotan di India lantaran dituding berperan sebagai medium penyebaran berita bohong.

Selain menebar keresahan dan kerusuhan, hoaks di India sudah berujung pada pembunuhan.

Pemerintah India pun meminta WhatsApp ikut bertanggung jawab.(Kompas.com/Wahyunanda Kusuma Pertiwi)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Perangi Hoaks, WhatsApp Batasi Pesan yang Diteruskan

Editor: Daryono
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help