Tim Dosen UNS Solo Kembangkan Pompa Air Bertenaga Surya di Klaten
Pompa tersebut diklaim bisa menghemat pengerluaran untuk membeli bahan bakar pompa air konvensional yang mencapai ratusan ribu setiap harinya
Penulis: Imam Saputro | Editor: Putradi Pamungkas
Laporan Wartawan TribunSolo.com, Imam Saputro
TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Tim dosen dari Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo mengembangkan sistem pompa air tenaga surya (SPATS) untuk mengairi sawah di Klaten.
Pompa tersebut diklaim bisa menghemat pengerluaran untuk membeli bahan bakar pompa air konvensional yang mencapai ratusan ribu setiap harinya.
“Dengan pompa ini bisa menghemat pembelian solar yang mencapai ratusan ribu rupiah per hari,” ungkap ketua tim, Chico Hermanu Brillianto Apribowo, Selasa (9/4/2018).
Menurutnya, pompa tenaga surya dengan 8 panel surya bisa beroperasi selama sehari penuh dan bisa mengairi sekitar 4.000 meter persegi sawah.
• Timnas U-16 Indonesia Bakal Berlaga di Piala Asia U-16 2018, Ini Daftar 24 Pemainnya
“Di musim kemarau ini pengairan sangat bergantung kepada pompa untuk mengangkat air dari sungai ke sawah, dengan rekayasa teknologi ini kami berharap bisa jadi salah satu solusi hemat energi untuk pengairan sawah di musim kemarau,” papar dia.
SPATS tersebut juga dapat dipindah-pindah ke lokasi lain sesuai kebutuhan.
Adapun biaya untuk membuat satu unit SPATS dengan 8 panel surya yang dapat menghasilkan tenaga listrik 800 watt, diperkirakan hanya memerlukan biaya Rp 25 juta.
Secara teknis, SPATS memiliki spesifikasi pompa submersible dengan driver motor 48-220 volt 300 W, solar panel 600 Wp, inverter pure sine wave 2.000 W, MPPT charge controller, kabel daya NYYHY 2 x 2,5 mm panjang 15 meter.
• Densus 88 Tangkap 7 Terduga Teroris Penembak Polisi PJR di Tol Kanci-Pejagan, Ini Kronologinya
Kemudian box MCB pengaman, pipa HDPE ukuran 2 inch panjang 10 meter, rangka besi dan roda penggerak dan dengan kemampuan debit sebesat 15-20 m kubik per hari.
“SPATS ini dirancang bisa bertahan sampai 10 tahun, jika dibandingkan dengan pembelian solar setiap harinya, maka teknologi ini sangat efisien ,” ungkapnya.
Pihaknya berharap rekayasa teknologi yang dikembangkan ini bisa membantu pemerintah dalam mewujudkan swasembada pangan. (*)