Nilai Tukar Rupiah Melemah

Menkeu Sri Mulyani Naikkan Pajak Kosmetik Impor hingga Mobil Mewah

Sri Mulyani mengungkapkan penyebab utama defisit transaksi berjalan ini adalah pertumbuhan impor yang jauh lebih tinggi dibanding ekspor.

Menkeu Sri Mulyani Naikkan Pajak Kosmetik Impor hingga Mobil Mewah
Facebook/Sri Mulyani Indrawati
Menteri Keuangan RI, Sri Mulyani Indrawati. 

TRIBUNSOLO.COM - Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, memberikan klarifikasinya terkait kebijakan pemerintah dalam rangka pengendalian defisit neraca transaksi berjalan, Rabu (5/9/2018).

Defisit neraca transaksi berjalan yakni kondisi dimana negara mengimpor lebih banyak barang dan jasa daripada ekspor.

Sri Mulyani mengungkapkan penyebab utama defisit transaksi berjalan ini adalah pertumbuhan impor yang jauh lebih tinggi dibanding ekspor.

Kurs Dollar, Nilai Tukar Rupiah Tembus Rp 15.029, Sudjiwo Tedjo: Rupiah Melemah Itu Bagus

Hingga Juli 2018, pertumbuhan impor mencapai 24,5 persen dan pertumbuhan ekspor kurang dari separuhnya, 11,4 persen.

Untuk menyeimbangkan kembali neraca perdagangan tanah air, berikut langkah-langkah yang diambil oleh Kementerian Keuangan bersama Kementerian Perekonomian, Kementerian Perindustrian dan Kementerian Perdagangan.

a. Meningkatkan industri sektor pariwisata, tinjauan terhadap proyek-proyek infrastruktur Pemerintah khususnya proyek strategi nasional.

b. Implementasi penggunaan Biodiesel (B-20) untuk mengurangi impor bahan bakar solar.

c. Melakukan tinjauan kebijakan Pajak Penghasilan terhadap barang konsumsi impor untuk mendorong penggunaan produk domestik.

Rupiah Melemah, Beberapa Hal Sederhana Ini Dapat Bantu Perkuat Nilai Mata Uang Indonesia

Kemenkeu juga melakukan penyesuaian tarif Pajak Penghasilan (PPh) untuk barang-barang impor.

Berikut rinciannya:

a. 210 item komoditas, tarif PPh 22 naik dari 7,5 persen menjadi 10 persen. Termasuk dalam kategori ini adalah barang mewah seperti mobil CBU, dan motor besar.

b. 218 item komoditas, tarif PPh 22 naik dari 2,5 persen menjadi 10 persen. Termasuk dalam kategori ini adalah seluruh barang konsumsi yang sebagian besar telah dapat diproduksi di dalam negeri seperti barang elektronik (dispenser air, pendingin ruangan, lampu), keperluan sehari hari seperti sabun, sampo, kosmetik, serta peralatan masak/dapur.

c. 719 item komoditas, tarif PPh 22 naik dari 2,5 persen menjadi 7,5 persen. Termasuk dalam kategori ini seluruh barang yang digunakan dalam proses konsumsi dan keperluan lainnya. Contohnya bahan bangunan (keramik), ban, peralatan elektronik audio-visual (kabel, box speaker), produk tekstil (overcoat, polo shirt, swim wear).

Rupiah Anjlok Rp 15.029, Ahmad Dhani Sindir Kinerja Presiden Jokowi: Prestasi Paling Nyata

(*)

Penulis: Noorchasanah A
Editor: Hanang Yuwono
Sumber: TribunSolo.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help