Perekonomian Dunia Bergejolak, Bank Indonesia Lakukan Intervensi Ganda

Di mana pada September 2018 lalu Bank Indonesia melakukan intervensi ganda, dengan menaikan suku bunga rate sebesar 25 bps

Perekonomian Dunia Bergejolak, Bank Indonesia Lakukan Intervensi Ganda
Tribunsolo.com/Garudea Prabawati
Kepala Perwakilan BI Solo, Bandoe Widiarto saat ditemui awak media di KPw BI Solo, Kamis (18/10/2018) 

Laporan Wartawan Tribunsolo.com, Garudea Prabawati

TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Solo, Bandoe Widiarto berujar adanya kenaikan suku bunga acuan atau BI rate, dalam rangka mengantisipasi gejolak ekonomi dunia.

"Ini merupakan kebijakan intervensi ganda untuk mengantisipasi gejolak ekonomi dunia dan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar," katanya kepada Tribunsolo.com, Sabtu (20/10/2018).

Di mana pada September 2018 lalu Bank Indonesia melakukan intervensi ganda, dengan menaikan suku bunga rate sebesar 25 bps.

Lantas, adanya  kebijakan moneter melalui kenaikan suku bunga sebesar 25 bps itu, menurutnya suku bunga acuan yang berlaku saat ini menjadi 5,75 persen. 

Hasil Rekonstruksi Kasus Air PDAM Solo Berwarna Merah Darah, Polisi Temukan Unsur Kesengajaan

Pihaknya juga menyebut, kebijakan tersebut sudah sangat tepat, mengingat situasi perekonomian global tengah terombang - ambing.

Apabila kebijakan ini tidak dilakukan justru akan mempengaruhi perekonomian dalam negeri.

Dalam hal ini artinya investor  asing bisa menarik diri dan nilai tukar rupiah bisa kembali melemah. 

Dan ternyata tidak hanya Indonesia saja yang memberlakukan kebijakan tersebut.

"Namun juga sejumlah negara di dunia melakukan kebijakan serupa untuk menjaga nilai tukar mata uangnya masing-masing," imbuhnya.

Hasil Kualifikasi MotoGP Jepang, Andrea Dovizioso Rebut Pole Position

Untuk itu, Bank Indonesia, lanjutnya juga telah melakukan upaya sebagai tindakan penstabilan ekonomi.

Antara lain membuat relaksasi kebijakan makroprudensial, yakni Loan to Value (LTV) dan Rasio Intermediasi Perbankan (RIM) serta pendalamam akses keuangan.

Juga intervensi pada pasar valas dan pembelian SBN dari pasar sekunder, terlebih Khususnya pada saat terjadi pembalikan modal asing dalam jumlah besar. 

"Termasuk memperkuat koordinasi dengan pemerintah dan otorisasi terkait untuk menjaga stabilitas ekonomi," tutupnya. (*)

Penulis: Garudea Prabawati
Editor: Putradi Pamungkas
Sumber: TribunSolo.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved