Suku Bunga Melambung Tinggi Tidak Berpengaruh Signifikan ke KPR Properti di Solo Raya

Tren kenaikan suku bunga acuan tampaknya tak berpengaruh terhadap kinerja perusahaan pengembang properti di Solo Raya.

Suku Bunga Melambung Tinggi Tidak Berpengaruh Signifikan ke KPR Properti di Solo Raya
ISTIMEWA
Ilustrasi pembangunan hunian di Solo Raya. 

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Garudea Prabawati

TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Tren kenaikan suku bunga acuan tampaknya tak berpengaruh terhadap kinerja perusahaan pengembang properti di Solo Raya.

Sekretaris asosiasi pengembang perumahan Real Estate Indonesia (REI) Solo Raya, Oma Nuryanto, mengatakan terlebih untuk suku bunga rumah subsidi.

"Walaupun suku bunga acuan Bank Indonesia naik, namun suku bunga Kredit Kepemilikan Rumah (KPR) masih sama, tidak ikut dinaikkan," ujarnya kepada TribunSolo.com, Senin (5/11/2018).

Saat ini, rata-rata suku bunga KPR di Solo Raya berkisar di angka 12 persen.

Seperti yang diketahui suku bunga Bank Indonesia naik 150 basis point (bsp) menjadi 5,75 persen akibat Bank Dunia menaikkan suku bunga menjadi 2,25 persen.

Namun walaupun demikian, lanjutnya, juga diiringi dengan adanya kebijkan Loan to Value (LtV).

Sehingga dapat menekan lebih laju peningkatan suku bunga KPR.

Sementara menuju pertengahan Kuartal IV 2018, penjualan rumah subsidi atau KPR berada di angka 65 persen dari target 2018, yakni 3.000 unit rumah.

"Rumah subsidi tentu saja masih banyak yang membutuhkan, di samping rumah dengan harga Rp 250 juta hingga Rp 350 juta juga termasuk jadi primadona saat ini," imbuhnya.

Dan capaian penjualan tersebut hampir sama seperti pertengahan kuartal IV tahun lalu.

Pihaknya menyampaikan, tahun 2018 ini walaupun digadang-gadang pertumbuhan perekonomian akan lebih baik, namun tetap saja di pertengahan terdapat dinamika perkonomian yang berpengaruh terhadap penjualan rumah subsidi.

"Seperti adanya depresiasi rupiah terhadap dollar saat ini setidaknya dapat mendongkrak inflasi serta mempengaruhi harga jual barang konsumsi semakin mahal," imbuhnya.

Sehingga menurunkan daya beli masyarakat (wait and see) untuk pembelian hunian.

"Tapi kami terus optimis, dan lebih berinovasi dalam pemasaran serta  program-program menarik sehingga menumbuhkan minat beli masyarakat akan hunian," tutupnya. (*)

Penulis: Garudea Prabawati
Editor: Noorchasanah Anastasia Wulandari
Sumber: TribunSolo.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved