Pipa Limbah PT RUM Patah dan Cemari Air Sungai, Timbulkan Bau Tak Sedap hingga Kulit Gatal-gatal

Pipa pembuangan limbah milik PT RUM patah di aliran sungai irigasi di Desa Gupit, Nguter, Sukoharjo.

Pipa Limbah PT RUM Patah dan Cemari Air Sungai, Timbulkan Bau Tak Sedap hingga Kulit Gatal-gatal
TribunSolo.com/Agil Tri
Pipa milik PT RUM di wilayah Desa Gupit, Nguter, Sukoharjo patah, Sabtu (12/1/2019). 

Laporan wartawan TribunSolo.com, Agil Tri

TRIBUNSOLO.COM, SUKOHARJO - Pipa pembuangan limbah milik PT RUM patah di aliran sungai irigasi di Desa Gupit, Nguter, Sukoharjo.

Akibat dari patahnya pipa ini, air limbah tercampur dengan air sungai irigasi yang mengaliri sawah di sekitar sungai.

Menurut Pembina Masyarakat Peduli Lingkungan (MPL) Ari Suwarno warga sekitar mencium bau yang tidak sedap dan merasakan gatal-gatal setelah terkena air tersebut.

"Pertama yang melihat pipa ini putus adalah Herman, yang rumahnya tidak jauh dari patahnya pipa limbah itu pada Senin (7/1/2019) malam," kata Ari saat di hubungi TribunSolo.com Sabtu (12/1/2019).

PT RUM Sukoharjo Keluarkan Bau Lagi, Forum Masyarakat Pecinta Lingkungan Curhat ke Sandiaga Uno

Herman langsung memotret pipa tersebut dan melaporkannya ke MPL via grup Whatsapp.

Keesokan hari, tim MPL yang dipimpin Ari meninjau lokasi dan melaporkan hal tersebut kepada Camat Nguter, Polsek Nguter, dan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Jawa Tengah.

"Setelah kami lapori, DHL Provinsi lalu mengambil sempel air yang sudah tercemar limbah tersebut," kata Ari.

Hasil dari penelitian sempel air limbah tersebut baru keluar 14 hari kemudian.

Pengolah Limbah Terbaru di PT RUM Sukoharjo, Daur Ulang Limbah Beracun Jadi Bahan Industri Kimia

Hingga berita ini diturunkan, belum ada tindakan perbaikan yang di lakukan PT RUM.

"Hanya ada pipa yang ditali saja, tapi belum disambung kembali," katanya.

Pipa ini patah diduga karena tidak kuat menahan arus air sungai yang saat itu sedang kencang karena hujan deras.

Pipa dengan panjang sekitar 2 Km ini terhubung dari PT RUM hingga ke aliran Sungai Bengawan Solo yang berada di Desa Nguter.

Menurut Petani sekitar lokasi, Katiyem, dirinya merasakan gatal-gatal setalah terkena air yang tercampur limbah tersebut.

"Saya mencuci cangkul di sungai itu, tapi kok saya malah gatal-gatal," katanya. (*)

Penulis: Agil Tri
Editor: Fachri Sakti Nugroho
Sumber: TribunSolo.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved