Pemilu 2019

Aria Bima Tepis Anggapan Mabes Polri yang Menilai Solo Daerah Rawan Konfik saat Pemilu

Aria Bima menilai orang Solo paham akan perbedaan pendapat, perbedaan partai bukan sesuatu yang memecah belah warga.

Aria Bima Tepis Anggapan Mabes Polri yang Menilai Solo Daerah Rawan Konfik saat Pemilu
TribunSolo.com/Efrem Siregar
Direktur Program TKN Jokowi-Ma’ruf, Aria Bima menerima wawancara awak media usai konsolidasi Projo dan partai politik pendukung Joko Widodo di Hotel Tamansari, Karanganyar, Jawa Tengah, Sabtu (6/10/2018). 

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Agil Tri

TRIBUNSOLO.COM, SUKOHARJO - Mabes Polri melalui Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karo Penmas) Divisi Humas Polri Brigadir Jenderal Dedi Prasetyo mengatakan Solo sebagai daerah rawan konflik terkait pemilu 2019, Rabu (30/1/2019), berdasarkan data dari intelijen.

Politisi PDI-P, Aria Bima, tak sependapat dengan penilaian tersebut.

Ditemuai saat akan mengisi sebuah acara di sebuah acara di Sukoharjo, Sabtu (2/2/2019), dia mengatakan jika warga Solo sudah dewasa.

"Kedewasaan politik warga Solo itu bisa membedakan pilihan, yang tidak bisa menjadikan hal untuk tidak rukun," katanya.

Aria menilai orang Solo paham akan perbedaan pendapat, perbedaan partai bukan sesuatu yang memecah belah warga.

"Perbedaan (pilihan) dalam Pilpres, Pilgub, Pilkada, sudah terbiasa berkali-kali bukan sesuatu yang bisa memisahkan," ucapnya.

Aria Bima Tanggapi Ucapan Menkominfo Rudiantara soal Yang Gaji Kamu Siapa

Aria yakin, orang Solo tau cara menempatkan diri untuk sesuatu yang mulia.

"Pilihan siapapun untuk negara, demokrasi tujuannya mulia untuk negara dan rakyat, cara-cara mulia orang Solo bisa menempatkan diri," katanya.

Bahkan Aria mengatakan, yang memecah belah orang Solo bukan merupakan orang asli warga Solo, tapi pendatang.

"Yang menjadi racun di Solo bukan orang Solo, tapi orang di luar Kota Solo yang datang entah dari mana, sehingga bisa menimbulkan gesekan," katanya.

Dia menyarankan warga Solo mengkonsolidasikan sendiri dengan membuat ronda, pertemuan, majelis taklim.

"Kalau ada yang aneh-aneh mulai ditanya untuk apa tujuannya," katanya. (*)

Penulis: Agil Tri
Editor: Noorchasanah Anastasia Wulandari
Sumber: TribunSolo.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved