Bekraf: Barista Diharapkan Mampu Kembangkan Produk Kopi Indonesia di Mata Dunia

Deputi Fasilitasi HKI dan Regulasi Bekraf, Ari Juliano Gema berujar barista seharusnya mampu menjaga eksistensi kopi Indonesia di mata dunia.

Bekraf: Barista Diharapkan Mampu Kembangkan Produk Kopi Indonesia di Mata Dunia
TribunSolo.com/Garudea Prabawati
Deputi Fasilitasi Hak Kekakayaan Intelektual (HKI) dan Regulasi, Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf), Ari Juliano Gema 

Laporan Wartawan Tribunsolo.com, Garudea Prabawati

TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Deputi Fasilitasi Hak Kekakayaan Intelektual (HKI) dan Regulasi, Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf), Ari Juliano Gema berujar seorang barista Indonesia seharusnya juga mampu menjaga eksistensi kopi Indonesia di mata dunia.

Pihaknya menyebut adanya Sertifikasi Kompetensi Bekraf yang dimiliki oleh barista membuat profesi barista tidak hanya dituntut sebagai peramu kopi saja.

"Namun juga memiliki pengetahuan serta mampu bercerita, memperkenalkan citarasa kopi Indonesia," katanya kepada Tribunsolo.com, saat ditemui di Solo, Selasa (19/3/2019). 

Bekraf: Sertifikasi Kompetensi Dapat Naikkan Kredibilitas Profesi Barista

Visinya adalah mengenalkan kopi lokal dengan cita rasa yang lezat serta barkarakter dan menumbuhkan kecintaan masyarakat Indonesia terhadap kopi lokal.

Pihaknya menyebut Indonesia memiliki perkebunan kopi berhektar-hektar.

Namun ironisnya warganya justru gemar mencicipi kopi mahal dari luar negeri.

Padahal kopi dari luar itu biji kopinya mayoritas berasal dari Indonesia.

Pihaknya menyebut 80 persen kopi lokal Indonesia diekspor ke luar negeri dengan harga yang fluktuatif, karena melalui trader.

100 Lebih Barista Soloraya Ikuti Sertifikasi Kompetensi dari Bekraf

"Untuk harga dari petani kopi lokal bisa dijual sangat rendah, kemudian diproduksi di luar negeri, di-packaging lebih bagus, dijual kembali ke Indonesia dengan harga yang bisa mencapai 10 kali lipat mahalnya," ungkapnya.

Makanya tugas Barista tidak hanya memberikan sajian kopi enak, tetapi juga menumbuhkan kecintaan kopi lokal di warganya sendiri.

Jika masyarakat Indonesia lebih banyak mengkonsumsi kopi lokal maka nilai jual kopi lokal bisa lebih baik. (*)

Penulis: Garudea Prabawati
Editor: Fachri Sakti Nugroho
Sumber: TribunSolo.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved