DLH Sukoharjo Sayangkan 10 Persen Bank Sampah Tak Lagi Dikelola

Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Sukoharjo menyayangkan Bank Sampah di Kabupaten Sukoharjo mulai ada yang pasif.

DLH Sukoharjo Sayangkan 10 Persen Bank Sampah Tak Lagi Dikelola
TRIBUNSOLO.COM/AGIL TRI
Kasi Pengurangan Sampah Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sukoharjo, Iin Widiatmi, saat rapat koordinasi antara DLH dengan pengurus masing-masing bank sampah se-Kabupaten Sukoharjo pada Kamis (4/4/2019). 

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Agil Tri

TRIBUNSOLO.COM, SUKOHARJO - Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Sukoharjo menyayangkan Bank Sampah di Kabupaten Sukoharjo mulai ada yang pasif.

Menurut Kasi Pengurangan Sampah Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sukoharjo, Iin Widiatmi, 10 persen dari total 75 bank sampah yang terdaftar di DLH Kabupaten Sukoharjo tidak aktif.

"Sangat disayangkan jika tidak aktif, padahal itu sangat bagus untuk pengolahan sampah, nanti secara khusus akan ditangani dan mencari solusi agar bisa aktif lagi," katanya saat ditemui dikantornya, Jumat (5/4/2019).

Padahal keberadaan bank sampah cukup penting untuk penanganan sampah yang ada di desa/kelurahan.

Hal itu diketahui saat rapat koordinasi antara DLH dengan pengurus masing-masing bank sampah se-Kabupaten Sukoharjo pada Kamis (4/4/2019).

"Jumlah 10 persen itu ditemukan saat rapat koordinasi bank sampah se-Kabupaten Sukoharjo kemarin," katanya.

Desa Ngadirejo Kartasura Jadi Desa Percontohan Pengolahan Sampah

Iin menambahkan, akan berupaya untuk menghidupkan kembali bank sampah yang tidak aktif itu.

Dia, belum tahu pasti kendala di lapangan kenapa bank sampah tidak aktif.

"Itu sebagai bahan evaluasi ke depannya dan mencari solusi serta penyebabnya," katanya.

Terpisah, Ketua Forum Komunikasi Bank Sampah Sukoharjo, Suryono Arif Wijaya mengatakan, keberadaan bank sampah sangat penting, sebagai upaya untuk penanganan masalah sampah.

"Di bank sampah itu, sampah dipilah-pilah mana yang bisa dimanfaatkan atau tidak."

"Jadi bisa meminimalisir pembuangan sampah ke tempat pembuangan akhir (TPA)," katanya.

Selain dapat dijual dan mendapat nilai ekonomi, Suryono menambahkan, sampah yang terkumpul bisa dimanfaatkan menjadi kerajinan dan pupuk kompos untuk sampah organik. (*)

Penulis: Agil Tri
Editor: Noorchasanah Anastasia Wulandari
Sumber: TribunSolo.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved