Kerap Diledek, Siswa Ini Tetap 'Pede' Jualan Bakwan Kawi Hingga Bisa Bantu Perekonomian Keluarga

Dirinya selalu memperoleh sindiran dari rekan sebayanya.

Tayang:
Editor: Hanang Yuwono
TribunJateng/Deni Setiawan
FIKRI MABRURI laris manis jualan bakso atau bakwan malang di sekolahnya. 

TRIBUNSOLO.COM - Pilihan untuk jualan bakso dan bakwan kawi yang telah dilakoninya hampir sekitar 2 tahun ini, berawal dari ketidaksengajaan.

Ketika itu, M Fikri Mabruri (18) siswa SMK Negeri 2 Salatiga mengikuti pameran stand kuliner yang merupakan bagian dari kegiatan praktik di sekolah.

Setelah berkonsultasi dengan guru pendamping yang merupakan koordinator Group Incubator SMK Negeri 2 Salatiga, Fikri memilih menjajakan bakso dan bakwan kawi khas Malang Jawa Timur.

Dia pilih berjualan itu, karena pula kenal dengan pemilik usahanya yang bernama Wasgito (42).

“Pameran selesai, eh saya kok jadi ketagihan. Saya pun niatkan diri untuk berjualan bakso dan bakwan."

"Lalu meminta izin ke pihak sekolah menjalin kerja sama dengan Wasgito dan begitu diizinkan, saya memulai berjualan di sekolah ini."

"Untuk bakso dan bakwan, harga jualnya Rp 500 per biji, rata-rata tiap hari jual antara 600 hingga 700 biji (pentol) per hari,” jelasnya kepada Tribun Jateng, Rabu (11/5/2016).

Dia bercerita, ketika awal berjualan di Hall Laboratorium SMK Negeri 2 Salatiga, dirinya selalu memperoleh sindiran dari rekan sebayanya.

Termasuk pula kakak maupun adik kelas.

Namun, dari sindiran itu dia mengklaim justru semakin bersemangat untuk membuktikan diri kepada mereka. Membuktikan apabila menjadi seorang wirausahawan lebih menguntungkan.

“Keuntungannya, saya sudah bisa mencari uang sendiri, dapat membantu perekonomian orangtua."

"Orangtua saya pun kesehariannya berjualan, bapak saya jadi penjual kerak telor keliling, sedangkan Ibu menjadi penjahit di Pasaraya II Salatiga."

"Saya tidak malu terhadap usaha ini, saya justru malu jika selalu jadi beban orangtua,” ungkap anak kedua dari dua bersaudara itu.

Anak dari pasangan Mukminin (56) dan Imronah (53) itu mengutarakan, jika sudah membulatkan tekad untuk menjadi wirausahawan.

Meskipun demikian, untuk sementara ini kegiatan menjadi pedagang sebatas sambilan.

Tugas serta kewajiban utama adalah menyelesaikan studi dan begitu lulus dari SMK Negeri 2 Salatiga, melanjutkan ke perguruan tinggi. (*) (TribunJateng/Deni Setiawan)

Sumber: Tribun Jateng
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved