Enggan Pulang, Jumlah TKI di Korsel Dekati Ambang Batas dan Pengiriman Terancam Dihentikan

Data di KBRI, TKI overstayer di Korea sudah mencapai kisaran 7.000 orang, atau mencapai 13 persen dari seluruh TKI di sana.

Enggan Pulang, Jumlah TKI di Korsel Dekati Ambang Batas dan Pengiriman Terancam Dihentikan
TribunMedan
Ilustrasi - TKI 

TRIBUNSOLO.COM, SEMARANG - Lantaran sudah nyaman, banyak Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Korea Selatan enggan pulang ke tanah air.

Dengan pendapatan lebih dari Rp 15 juta per-bulan, para TKI itu enggan pulang kampung karena takut sengsara.

Akibatnya ribuan TKI di Korea telah overstayer.

Hal itu diungkapkan Minister Counsellor Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Seoul, M Aji Surya, pada Tribun Jateng di sela kunjungannya di Semarang, Minggu (29/05/16).

Menurutnya, bila problem overstayer ini tidak ditangani secara serius, maka dapat mengganggu pengiriman TKI formal yang jumlahnya kisaran 4.000 orang per tahun.

"Pemerintah Pusat dan KBRI Seoul harus bahu-membahu dalam memberikan pemberdayaan bagi TKI purna di Korea, sehingga mereka bersedia pulang ke kampung halaman dengan penuh semangat," tandas Aji.

Data di KBRI, TKI overstayer di Korea sudah mencapai kisaran 7.000 orang, atau mencapai 13 persen dari seluruh TKI di sana.

Padahal, Pemerintah Korea sudah memperingatkan bahwa bila overstayer tersebut mencapai 15 persen, maka akan melakukan pembekuan sementara pengiriman TKI formal dalam kerangka 'G to G'.

Di sisi lain, lanjutnya, masalah yang mengemuka adalah ketidaksiapan para TKI untuk memulai hidup baru di tanah air setelah selama ini memperoleh gaji dan lembur yang mencapai lebih dari Rp 20 juta sebulan.

Sedangkan ketika pulang dan hanya mengambil tabungan, lanjutnya, maka mereka merasa masa depannya suram.

Untuk itulah sebagian TKI kemudian memilih menjadi overstayer dengan risiko yang cukup besar.

"Bayangkan, mereka itu umumnya tidak dilindungi dengan asuransi kesehatan, sehingga kalau terpaksa masuk rumah sakit maka uangnya bisa ludes dan membebani teman-temannya. Selain itu, kalau tertangkap polisi maka risikonya akan dipenjara sebelum dideportasi," ungkap Aji.(Tribun Jateng/M Nur Huda)

Editor: Daryono
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved