Di Era Perdagangan Online, Kampung Batik Laweyan Tetap ‘Jualan’ Tradisinya

Ini tidak bisa diperoleh di internet, orang harus dapat cerita langsung ke sini, makanya ini yang harus kita kembangkan

Penulis: Bayu Ardi Isnanto | Editor: Noorchasanah Anastasia Wulandari
TRIBUNSOLO.COM/IMAM SAPUTRO
Pewarnaan salah satu lembar Mushaf/Alquran batik menggunakan bahan pewarna alami yang terbuat dari akar, kulit, dan daun pohon tertentu. 

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Bayu Ardi Isnanto

TRIBUNSOLO.COM, SOLO – Tradisi batik di Kampung Laweyan tetap harus dipertahankan dan dikembangkan meski zaman semakin maju.

Hal tersebut diungkapkan Ketua Forum Pengembangan Kampung Batik Laweyan, Alpha Febela usai penandatanganan kerja sama Kampung Batik Laweyan menuju kampung UKM digital, Jumat (17/6/2016).

“Supaya wisatawan datang ke Laweyan, harus ada kegiatan yang bisa mengundang orang, misalnya pentas tradisi atau apa,” kata Alpha di Pendopo Kelurahan Laweyan.

Menurutnya di samping kualitas produk, inovasi merupakan hal yang penting dalam menunjang langgengnya sebuah usaha.

“Soalnya kita itu tidak hanya jual batik, tapi juga soal lingkungan, sejarah, arsitektur,” lanjutnya.

“Ini tidak bisa diperoleh di internet, orang harus dapat cerita langsung ke sini, makanya ini yang harus kita kembangkan,” kata Alpha.

Pemilik Batik Mahkota itu mengatakan, saat ini sebagian besar industri batik di Laweyan telah memanfaatkan teknologi dalam pemasarannya.

Ke depan, pihaknya akan bekerja sama dengan PT Telkom untuk melakukan pendampingan pengoptimalan penggunaan internet. (*)

Sumber: TribunSolo.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved