Breaking News:

Ramadan 2016

Malam Selikuran, Tradisi Menyambut Malam Lailatul Qadar ala Masyarakat Jawa

Sehingga setiap malam selikuran Keraton Surakarta Hadiningrat selalu memperingatinya dengan pawai mengarak seribu tumpeng ke masjid Agung Surakarta.

The Jakarta Post
Tradisi malam selikuran 

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Labib Zamani

TRIBUNSOLO.COM, SOLO – Wakil Raja Keraton Surakarta Hadiningrat, Kanjeng Gusti Pangeran Haryo (KGPH) Puger, mengatakan, selikuran atau 21 Ramadan merupakan tradisi menyambut malam Lailatul Qadar masyarakat Jawa.

Selikuran sendiri berarti 21 jika dalam Bahasa Indonesia.

Selikuran itu turunnya wahyu seribu bulan,” kata Puger saat ditemui di Keraton Surakarta Hadiningrat, Jumat (24/6/2016).

Selikuran ini merupakan momen penting untuk umat Islam,” terangnya.

Sehingga setiap malam selikuran Keraton Surakarta Hadiningrat selalu memperingatinya dengan pawai mengarak seribu tumpeng ke masjid Agung Surakarta.

Tumpeng tersebut sebagai simbol doa.

“Karena malam ganjil di bulan Ramadan itu ada tiga, 17, 19 dan 21 maka keratin memperingati malam selikuran ini pada tanggal 21 Ramadan,” katanya.

Saat ditanya alasan kenapa setiap memperingati malam selikuran keraton selalu membawa tumpeng, kata Puger merupakan bentuk wilujengan atau selamatan agar selalu selamat di jalan yang benar.

Wilujengan ini kita dapat supaya selamat, ojo loncat meneh (jangan melompat lagi, Red),” ucapnya.

Tahun ini Keraton Surakarta akan memperingati malam selikuran pada Minggu (26/6/2016) malam. (*)

Penulis: Labibzamani
Editor: Noorchasanah Anastasia Wulandari
Sumber: TribunSolo.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved