Breaking News:

Buntut Kasus Bilik Asmara, Napi Terorisme Asal Solo Ini Dipindah dari Lapas Pamekasan

Sebelum diserahkan ke pihak Lapas Klas II B Kabupaten Tuban, Noim akan diserahkan dulu kepada Densus 88 di Surabaya.

KOMPAS.COM/TAUFIQURRAHMAN
Puluhan anggota Polres Pamekasan berjaga-jaga di Lapas Klas II A Pamekasan pascaancaman dari Napi teroris, Noim Baasyir, Sabtu (9/7/2016). 

TRIBUNSOLO.COM, PAMEKASAN - Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Klas II A Pamekasan, Madura, Jatim, akhirnya  memindahkan narapidana kasus terorisme, Noim Ba’asyir.

Dia dipindah, Sabtu (9/7/2016) malam, setelah membuat kegaduhan di dalam lapas dan mengancam akan mengobarkan perang sekaligus mengerahkan rekan-rekannya,

Noim dipindahkan dari Lapas Pamekasan pada pukul 19.20 WIB.

Menurut informasi yang diterima Kompas.com, Noim  dipindah ke Lapas Klas II B Kabupaten Tuban, Jawa Timur.

Noim dipindahkan menggunakan mobil jenis ambulans warna putih bernomor polisi B 1633 SHX yang dikawal satu unit Toyota Kijang warna perak bernomor Polisi M 429 AP dan Suzuki Ertiga warna putih dengan nomor Polisi F 331 TI.

Humas Lapas Pamekasan, Restu, saat dimintai konfirmasi membenarkan kabar  pemindahan Noim Ba’asyir.

Pemindahan terpidana asal Solo, Jateng, yang juga kerabat Ustaz Abu Bakar Baasyir tersebut, dikawal 16 aparat kepolisian.

Masing-masing empat orang dari Brimob, empat orang dari Reserse Kriminal, empat orang dari Sabhara dan empat orang dari Lapas Pamekasan.

“Sebelum diserahkan ke pihak Lapas Klas II B Kabupaten Tuban, Noim akan diserahkan dulu kepada Densus 88 di Surabaya,” kata Restu.

Saat ini, Kepala Lapas Klas II A Pamekasan, Bambang Eko Putro, sedang menyiapkan laporan kepada Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusi Jawa Timur, terkait peristiwa di Lapas Pamekasan.

Sebelumnya diberitakan, Noim Ba’asyir membuat kegaduhan di dalam Lapas karena permintaannya untuk disediakan bilik asmara tak dikabulkan.

Kala itu Noim berniat untuk berhubungan intim dengan istrerinya yang datang menjenguk pada Sabtu (9/7/2016) siang.

Alasan pihak lapas menolak permintaan itu karena tidak ada aturan yang memperbolehkan seorang narapidana berhubungan intim dengan isterinya.

Kegaduhan itu membuat kesal narapidana lain.

Bahkan seorang narapidana melempar Noim dengan menggunakan batu. (Kompas.com/Taufiqurrahman)

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved