Kamu Sering Berkomentar Kasar di Internet? Bisa Jadi Kamu Mengalami Hal Ini

Isinya tak jarang hanya berupa adu debat sengit yang saling menjatuhkan, tetapi seringkali juga muncul komentar-komentar yang bernada kasar.

Kamu Sering Berkomentar Kasar di Internet? Bisa Jadi Kamu Mengalami Hal Ini
verticalresponse.com

TRIBUNSOLO.COM - Jika kita perhatikan cara kita memakai media sosial di internet saat ini terbuka banyak sekali ruang untuk memberikan komentar.

Di berbagai grup WhatsApp keluarga, grup Facebook angkatan saat sekolah, ataupun artis favorit di Twitter, selalu ada hal yang bisa kita komentari dari berbagai kegiatan yang orang bagikan di media sosial tersebut.

Terkadang di LINE bisa kita temukan orang-orang membagikan (share) artikel ataupun kisah seseorang yang berisi keluh kesah mengenai GoJek yang mereka naiki atau perilaku Awkarin yang terbaru di mana hal-hal tersebut mengundang kita untuk memberikan respon tertentu berkaitan dengan kisah yang mereka bagikan.

Sebelum ikut berkomentar biasanya kita akan melihat respon lain dari orang-orang yang membaca artikel di LINE tersebut dan kita dapat menemukan begitu beragamnya komentar-komentar yang diberikan oleh orang-orang tersebut.

Yang menarik perhatian dari komentar-komentar oleh orang lain tersebut adalah banyaknya komentator yang saling berdebat di kolom komentar artikel tersebut.

Isinya tak jarang hanya berupa adu debat sengit yang saling menjatuhkan, tetapi seringkali juga muncul komentar-komentar yang bernada kasar yang bahkan bisa menggunakan kata-kata kasar kebun binatang.

Tidak jarang kita menemukan seseorang mengumpat kepada komentator lain karena berbeda pendapat yang kemudian membawa sentimen-sentimen rasis seperti agama maupun ras, dan bisa juga hal-hal yang tidak ada kaitannya seperti “antek-antek Yahudi” pun dibawa-bawa.

Hal ini mengundang pertanyaan, bagaimana seseorang berani melakukan hal tersebut?

Padahal komentar kasar tersebut diucapkan di ranah publik, di media sosial di mana hampir siapapun dapat membaca komentar kasar miliknya.

Hal ini oleh Papacharissi (seorang sarjana komunikasi yang karyanya telah membantu mendefinisikan bidang komunikasi politik di era media digital kontemporer) dianggap terkait dengan kondisi bahwa identitas diri pemberi komentar kasar atau negatif tidak banyak diketahui orang.

Halaman
12
Editor: Rifatun Nadhiroh
Sumber: Intisari
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved