Breaking News:

Hanya dengan Rp 50 Ribu, Warga Bantul Yogyakarta Ini Bisa Rakit Sensor Gempa

Pasca-gempa 2006 lalu, bahkan hingga sampai saat ini sebagian warga, terutama yang berusia tua, masih trauma dengan guncangan.

KOMPAS.COM/Wijaya Kusuma
Giyanto saat merangkai kabel , menghubungkan antara kabel dari Kawat nikel ke alarm bel rumah 

TRIBUNSOLO.COM - Gempa yang mengguncang Daerah Istimewa Yogyakarta pada 2006 lalu membuat hampir 80 persen rumah warga di Nogosari, Selopamioro, Imogiri, Bantul mengalami rusak berat.

Beberapa rumah bahkan roboh.

Tak hanya rumah, warga juga banyak yang mengalami luka-luka akibat tertimpa bangunan.

Beruntung tidak ada warga Nogosari yang meninggal dunia.

Pasca-gempa 2006 lalu, bahkan hingga sampai saat ini sebagian warga, terutama yang berusia tua, masih trauma dengan guncangan.

Sekecil apapun guncangan dirasakan, terutama akibat gempa, beberapa warga masih akan berlari menyelamatkan diri meski sudah berada di luar rumah

Mengetahui hal tersebut, warga Nogosari bernama Giyanto (37) bersama tujuh rekannya yang tergabung dalam Komunitas Relawan Tanggap Jogja membuat alat sensor gempa.

"Sensor gempa ini namanya 'Otok-otok', ya agar lebih mudah orang sini mengenal namanya kalau diberi nama mana EWS (early warning system) kan enggak tahu mereka, walaupun fungsinya sama," ujar Giyanto saat ditemui Kompas.com di rumahnya, Nogosari, Bantul, Sabtu (10/12/2016).

Bapak dua orang anak ini menceritakan, awalnya pada 2010 pasca-erupsi Gunung Merapi, ia bersama tujuh rekannya yang saat itu turut menjadi relawan, melihat alat sensor kegempaan gunung di posko Merapi, Sleman.

Ketika mengamati alat itu, Giyanto lalu mencermati cara kerjanya.

Halaman
1234
Editor: Noorchasanah Anastasia Wulandari
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved