Seorang Pendeta Laporkan Rizieq Shihab Terkait Dugaan Ancaman Pembunuhan

Petrus mengatakan, dengan melaporkan Rizieq ke polisi, setidaknya ada perlindungan hukum terhadap para pendeta.

Seorang Pendeta Laporkan Rizieq Shihab Terkait Dugaan Ancaman Pembunuhan
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq saat tiba untuk pemeriksaan di Polda Metro Jaya, Jakarta, Senin (23/1/2017). Habib Rizieq diperiksa terkait kasus dugaan penghinaan terhadap logo Bank Indonesia (BI) yang dituduh simbol palu-arit. TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN 

TRIBUNSOLO.COM, JAKARTA - Seorang Pendeta bernama Max Evert Ibrahim Tangkudung, dari Minahasa, Manado, Sulawesi Utara, melaporkan pimpinan Front Pembela Islam (FPI) Rizieq Shihab ke Bareskrim Polri.

Max merasa pernyataan Rizieq dalam video yang diunggah di YouTube telah mengancam rasa aman para pendeta.

"Rizieq dilaporkan atas dugaan melakukan tindak pidana mengancam membunuh pendeta-pendeta melalui informasi elektronik," kata pengacara Max Petrus Selestinus saat dikonfirmasi, Kamis (26/1/2017).

Laporan polisi yang didaftarkan bernomor LP/93/2017/Bareskrim tertanggal 26 Januari 2017.

Dalam video tersebut, kata Petrus, ada pernyataan Rizieq berisi kata-kata ancaman kepada pendeta.

Petrus mengatakan, mulanya laporan itu diajukan ke Polda Metro Jaya.

Namun, lokasi di video itu belum dapat dipastikan sehingga dirujuk ke Bareskrim Polri.

Petrus mengatakan, dengan melaporkan Rizieq ke polisi, setidaknya ada perlindungan hukum terhadap para pendeta.

"Supaya tidak merasa terancam dan demi mendapatkan rasa nyaman dan aman sesuai dengan jaminan dari undang-undang," kata Petrus.

Selain membuat laporan polisi, mereka juga akan mengajukan permohonan perlindungan hukum dan keamanan kepada Kapolri agar unit kepolisian di Indonesia memberi perlindungan hukum dan keamanan secara khusus kepada tokoh agama.

Dengan demikian, kata Petrus, mereka tidak terbebani dan cemas saat melakukan kegiatan keagamaan.

"Apabila tidak dicegah, maka berpotensi menimbulkan kondisi anomali, saling curiga bahkan mengarah kepada konflik horizontal," kata Petrus.

Video tersebut diunggah sejak pertengahan Maret 2016.

Namun, Max mengaku baru belakangan ini melihat video tersebut dan melaporkannya ke polisi.

Saat melapor, Max dan tim kuasa hukum dari Tim Pembela Demokrasi Indonesia (TPDI) juga membawa bukti berupa video dari YouTube itu. (KOMPAS.com/Ambaranie Nadia Kemala Movanita)

Editor: Hanang Yuwono
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved