Naik Pesawat Tempur, Ketua DPRD Solo: Ini Sejarah dalam Hidup Saya!

Ditemui usai mencoba menaiki pesawat tempur T50i dari Skadron 15 Lanud Is Wahjudi Madiun, Teguh berbagi kesan kepada wartawan.

Naik Pesawat Tempur, Ketua DPRD Solo: Ini Sejarah dalam Hidup Saya!
TRIBUNSOLO.COM/CHRYSNHA PRADIPHA
Ketua DPRD Solo, Teguh Prakosa (kiri) foto di sekitar pesawat tempur T50i, Bandara Adi Soemarmo Solo, Boyolali, Sabtu (29/4/2017) siang. 

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Chrysnha Pradipha

TRIBUNSOLO.COM, BOYOLALI - Rasa takjub dirasakan Ketua DPRD Solo, Teguh Prakosa, saat menghadiri pameran pesawat di Bandara Adi Soemarmo Solo, Boyolali, Sabtu (29/4/2017).

Ditemui usai mencoba menaiki pesawat tempur T50i dari Skadron 15 Lanud Is Wahjudi Madiun, Teguh berbagi kesan kepada wartawan.

"Sejarah dalam hidup saya!" seru Teguh.

Teguh mengungkap, mengenakan seragam pilot dan diberi kesempatan naik pesawat tempur seakan-akan sebuah keajaiban bagi dirinya. 

"Tidak mimpi, tidak berangan-angan, ternyata saya merasakan seperti menjadi pilot," ungkapnya.

Ketua DPRD Solo, Teguh Prakosa, menaiki pesawat tempur T50i, Bandara Adi Soemarmo Solo, Boyolali, Sabtu (29/4/2017) siang.
Ketua DPRD Solo, Teguh Prakosa, menaiki pesawat tempur T50i, Bandara Adi Soemarmo Solo, Boyolali, Sabtu (29/4/2017) siang. (TRIBUNSOLO.COM/CHRYSNHA PRADIPHA)

Awalnya politisi PDIP ini mengaku hanya menghadiri undangan tanpa menngetahui isi acara.

"Undangannya tidak jelas, tidak tahu acaranya, lalu Danlanud (Danlandu Adi Soemarmo Adi Soemarmo, Kolonel Pnb Muhamad Tony Harjono,-Red) mengajak saya mencoba seragam pilot dan dipersilakan naik pesawat tempur," ujarnya.

Berbagi pengalaman, Teguh bahkan mengatakan, atribut dan peralatan pesawat tempur rumit.

"Atributnya berat mungkin dua kilogram lebih, lalu saat naik (ke T50i) tidak sembarang, kakinya tidak boleh langsung turun, ke lantai, karena ada panel-panel rumit pesawat," katanya.

"Sungguh rumit dan saya acungi jempol untuk pilot pesawat tempur," imbuhnya.

Dalam hal ini, Teguh berharap, even seperti ini diadakan minimal dua kali setahun.

"Selain masyarakat berantusias menyaksikan pameran, dunia dirgantara perlu dikenalkan kepada masyarakat," tandas dia. (*)

Penulis: Facundo Crysnha Pradipha
Editor: Daryono
Sumber: TribunSolo.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved