Umat Santo Pius X Karanganyar Tanam 800 Bibit Pohon di Lereng Lawu

Menurut dia, sudah saatnya umat Katolik keluar dari kegiatan yang dilakukan hanya di seputar altar.

Penulis: Imam Saputro | Editor: Hanang Yuwono
DOK. Gereja Paroki Santo Pius X Karanganyar
Umat Gereja Paroki Santo Pius X Karanganyar menanam pohon di lereng Gunung Lawu, tepatnya di hutan tambak petak 16 Lawu utara, Ngargoyoso Karanganyar, Senin (1/5/2017). 

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Imam Saputro

TRIBUNSOLO.COM, KARANGANYAR -Sejumlah umat Gereja Paroki Santo Pius X Karanganyar menanam pohon di lereng Gunung Lawu, tepatnya di hutan tambak petak 16 Lawu utara, Ngargoyoso Karanganyar.

Penanaman pada Senin (1/5/2017) kemarin itu dilakukan bersama sejumlah ormas dan relawan, seperti Pemuda Katolik, WKRI, Banser NU, relawan Desa Berjo, relawan Jalak Jenawi, serta PT Indo Gula Pastika dan PT Lombok Gandaria.

Sebanyak 800 bibit pohon ditanam bersama.

Ketua PSE Paroki Santo Pius X sekaligus panitia tanam pohon Yosef Mario Malingara mengatakan, kegiatan penanaman pohon ini adalah bentuk implementasi dari aksi puasa pembangunan (APP) 2017 yang mendorong umat Katolik sebagai pelopor peradaban kasih di masyarakat.

Selain itu juga sebagai bentuk cinta lingkungan.

"Menanam pohon itu menanam peradaban," ujarnya melalui keterangan tertulisnya, Selasa (2/5/2017).

Hal senada dikatakan Ketua I Dewan Paroki Santo Pius X, Karjanto.

Menurut dia, sudah saatnya umat Katolik keluar dari kegiatan yang dilakukan hanya di seputar altar.

"Kami mendorong umat Santo Pius X mengadakan kegiatan yang melibatkan masyarakat umum di luar gereja, seperti kegiatan tanam pohon ini," katanya.

Maridi, petugas di hutan tambak petak 16 Lawu utara, Ngargoyoso Karanganyar menyambut baik kegiatan penanaman pohon yang dilakukan umat Katolik itu.

Menurut dia, penanaman pohon di kawasan itu biasanya dilakukan anak sekolah, masyarakat umum.

Dikatakan, dalam usia tiga tahun, pohon yang ditanam rata-rata bisa menyimpan 3 liter air.

Jika lahan gundul atau gersang, air di Gunung Lawu ini bisa mengalir ke Solo dalam waktu hanya tiga jam.

"Tapi kalau hutannya lebat, butuh waktu tiga tahun untuk bisa sampai ke Solo," pungkasnya.(*)

Sumber: TribunSolo.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved