Masyarakat Anti Hoax Solo Raya Hadir Perangi Hoaks di Tingkat Lokal
MAHS juga melibatkan berbagai elemen, diantaranya, tokoh lintas agama, budayawan, akademisi, dan pemerhati sosial.
Penulis: Imam Saputro | Editor: Hanang Yuwono
Laporan Wartawan TribunSolo.com, Imam Saputro
TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Akhir tahun 2016, sejumlah pegiat media sosial (medsos) mendeklarasikan gerakan anti hoaks di Solo dengan nama Masyarakat Anti Hoax Solo Raya (MAHS).
MAHS juga melibatkan berbagai elemen, diantaranya, tokoh lintas agama, budayawan, akademisi, dan pemerhati sosial.
"Kami hadir di tingkat lokal pertama kali di Indonesia, untuk memerangi hoaks atau berita bohong mulai dari tingkat lokal, " kata Koordinator Masyarakat Indonesia Anti Hoax Solo Raya, Niken Satyawati, saat jumpa pers di Monumen Pers Nasional di Solo, Jumat (19/5/2017).
Setelah Solo, lanjut Niken, komunitas anti hoaks juga muncul Semarang, Bandung, Wonosobo, Pontianak, dan lainnya.
(Baca: Perangi Berita Hoax, Kopral Bagyo Lari Sambil Bawa Obor di Jl Slamet Riyadi Solo)
Menurutnya, kondisi penyebaran hoaks yang sudah sangat mengkhawatirkan.
"Untuk itu, kita gencar sosialisasi ke sekolah- sekolah dan ke berbagai kesempatan yang ada untuk bersama-sama memerangi hoaks, " ujarnya.
Diakui Niken, perang melawan hoaks butuh partisipasi dari semua elemen.
"Hoaks muncul di medsos itu biasanya dalam waktu singkat bisa langsung beribu-ribu share, nah kalau kita saja yang bergerak tanpa ada bantuan, itu tidak cukup, " jelasnya.
Pihaknya dalam memerangi hoaks selalu melakukan pemeriksaan terhadap hoax tersebut secara menyeluruh.
"Kami selalu cek sejelas mungkin, bahkan pernah telefon ke Kedutaan Palestina di Jakarta untuk klarifikasi apa yang sebenarnya terjadi di Palestina," tutup Niken.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/solo/foto/bank/originals/mahs_20170519_152347.jpg)