Ramadan 2017

Langgar Merdeka Laweyan Solo Ini Dibangun dalam Konsep Keagamaan dan Konsep Ekonomi Syariah

"Masjid bukan simbol membuat struk (proposal, Red) untuk minta bantuan dan itu dibuktikan Langgar Merdeka sampai sekarang," katanya menegaskan.

Penulis: Labibzamani | Editor: Junianto Setyadi
TRIBUNSOLO.COM/LABIB ZAMANI
Ketua Yayasan Langgar Merdeka Laweyan, Solo, Zulfikar Husain. 

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Labib Zamani

TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Langgar Merdeka Laweyan, Solo, Jateng, dibangun dalam dua konsep.

Konsep yang pertama adalah untuk pusat kegiatan keagamaan.

Baca: Langgar Merdeka Laweyan Solo Ini Ternyata Bekas Pertokoan Candu

Kemudian, kedua, adalah konsep ekonomi syariah.

"Bahwa masjid atau langgar itu pusat kegiatan (keagamaan)," kata Ketua Yayasan Langgar Merdeka Laweyan, Solo, Zulfikar Husain, ketika ditemui TribunSolo.com, Jumat (2/6/2017).

"Masjid bukan simbol membuat struk (proposal, Red) untuk minta bantuan dan itu dibuktikan Langgar Merdeka sampai sekarang," katanya menegaskan.

Baca: Terungkap, Nama Langgar Merdeka Laweyan Merupakan Pesan Presiden Soekarno

Adapun bangunan Langgar Merdeka Laweyan terdiri dua lantai.

Pengendara sepeda motor melintas di depan Langgar Merdeka, di Jalan Dr Radjiman Laweyan, Solo, Rabu (31/5/2017).
Pengendara sepeda motor melintas di depan Langgar Merdeka, di Jalan Dr Radjiman Laweyan, Solo, Rabu (31/5/2017). (TRIBUNSOLO.COM/LABIB ZAMANI)

Lantai dasar untuk kegiatan ekonomi syariat.

Sementara lantai dua untuk ibadah salat.

Menurut Zulfikar, keberadaan pertokoan yang menggunakan bangunan lantai dasar, sangat menunjang keberlangsungan Langgar Merdeka.

"Kita punya pendapatan per tahunnya itu sekitar Rp 30 juta dari kegiatan ekonomi syariah yang menggunakan lantai dasar itu," katanya. (*)

Save

Sumber: TribunSolo.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved