Ramadan 2017
Sebelas Gamelan Pura Mangkunegaran Solo Akan Dimandikan hingga 21 Ramadan
Selanjutnya, ritual jamasan dimaknai sebagai pembersihan kembali benda pusaka yang dianggap sakral.
Penulis: Facundo Crysnha Pradipha | Editor: Hanang Yuwono
Laporan Wartawan TribunSolo.com, Chrysnha Pradipha
TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Sebelas gamelan Pura Mangkunegaran dijamasi atau dimandikan dalam prosesi ritual Jawa.
Hal itu dilakukan selama bulan Ramadan hingga 21 Ramadan.
Rabu (14/6/2017) telah sampai pada gamelan ke-6 dari sebelas rangkaian gamelan yang ada.
Yakni gamelan Udan Arum dan Udan Asih.
Berdasarkan keterangan Plt Pengageng Mondropuro Pura Mangkunegaran, Supriyanto Waluyo, ritual jamasan gamelan merupakan tradisi tahunan.
"Tradisi dari ratusan tahun lalu mengadakan ritual jamasan gongso (gamelan) setahun sekali saat bulan puasa Ramadan," ujarnya.
Selanjutnya, ritual jamasan dimaknai sebagai pembersihan kembali benda pusaka yang dianggap sakral.
Adapun selama bulan puasa, kesebelas gamelan tersebut pantang untuk dibunyikan atau ditabuh.
"Yang membersihkan juga adalah abdi dalem (pengabdi) Pura Mangkunegaran yang sudah dipilih," ujar dia menambahkan.
Adapun satu set gamelan membutuhkan hingga sekitar empat hari dalam ritual jamasan.
Prosesi ritual yakni didoakan dengan dupa dan sesaji serta persembahan berupa nasi dan ubo rampe.
Usai didoakan, ritual jamasan dilanjutkan dengan membasuh, mencuci, menyikat set gamelan dengan air aneka rupa kembang.
Ritual tersebut akan dihentikan hingga menginjak 21 Ramadan.
Adapun kesebelas gamelan meliputi gamelan Kyai Manyut Mesem, Kyai Lipur Sari, Kyai Nogo Limo, Kyai Precet, Kyai Udan Arum, Kyai Udan Asih, Kyai Mardisuoro, Kyai Segoro Windu, Kyai Pamedarsih, Kyai Baswara, dan Kyai Tomboneng. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/solo/foto/bank/originals/gamelan-pura-mangkunegaran_20170614_222945.jpg)