Unik, Guru di SD Muhammadiyah 1 Ketelan Surakarta Mengajar Gunakan Media Wayang

Dia mengaku menggunakan model pembelajaran itu karena siswa kerap merasa bosan dan jenuh jika sistem berjalan monoton

Penulis: Labibzamani | Editor: Putradi Pamungkas
TRIBUNSOLO.COM/LABIB ZAMANI
Seorang guru SD Muhammadiyah 1 Ketelan Surakarta gunakan media wayang dalam mengajar mapel Bahasa Jawa, Rabu (26/7/2017). 

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Labib Zamani

TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Seorang guru SD Muhammadiyah 1 Ketelan Surakarta melakukan model pembelajaran unik dengan menggunakan alat peraga wayang.

Sistem itu dinilai efektif untuk mengajarkan materi pelajaran dalam apresiasi seni pedalangan.

Selain itu juga pembentukan budi pekerti luhur yang berkarakter.

Model pembelajaran itu tidak monoton atau jenuh sekaligus menghibur peserta didik.

Guru tersebut adalah Agung Sudarwanto.

Dia mengaku menggunakan model pembelajaran itu karena siswa kerap merasa bosan dan jenuh jika sistem berjalan monoton.

Apalagi, mata pelajaran Bahasa Jawa yang dia ampu dianggap kuno sehingga tak banyak diminati siswa.

"Makanya untuk mengajar seperti ini, saya harus kreatif dan inovatif menciptakan hal-hal baru."

"Misalnya saat mengajar materi tentang Gatutkaca -sosok gagah perkasa tak terkalahkan dalam dunia pewayangan selaras dengan nilai-nilai karakter integritas, gotong-royong dan mandiri," kata dia, kepada TribunSolo.com, Rabu (26/7/2017).

Terbukti, lelaki yang juga sebagai dalang ini berhasil menghipnotis atau menyedot perhatian 28 siswa di kelas.

Mereka mendengarkan sambil mengikuti gerakan wayang.

"Ini yang kadang siswa tidak bisa mengikuti Bahasa Jawa, namun mereka sudah memperhatikan terlebih dahulu, semoga mereka dapat membekas di jiwanya," ungkap dia.

Sementara itu, Kepala sekolah, Sri Sayekti, mengatakan, melemahnya budaya dan karakter bangsa ini menjadi sorotan tajam dari masyarakat.

Persoalan ini tidak boleh diabaikan karena menyangkut masa depan generasi bangsa.

SD Muhammadiyah 1 Ketelan Surakarta terpanggil untuk ikut berkontribusi, salah satunya adalah mendorong guru dan tenaga kependidikan memberi keteladanan, minimal ketika mengajar membawa alat peraga. (*)

Sumber: TribunSolo.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved