Rasa Gurihnya Jadi Khas, Gudeg Juminten di Yogyakarta Sudah Bertahan Hampir Satu Abad

Sebagai Kota Gudeg, Yogyakarta memiliki banyak pilihan gerai gudeg yang melegenda.

Editor: Daryono
KOMPAS.com/ANDREAS LUKAS ALTOBEL
Hidangan gudeg di Warung Makan Gudeg B. Djuminten, Jogjakarta, Minggu (6/8/2017). 

TRIBUNSOLO.COM, YOGYAKARTA - Sebagai Kota Gudeg, Yogyakarta memiliki banyak pilihan gerai gudeg yang melegenda.

Sebut saja Gudeg Yu Djum, Gudeg Pawon, Gudeg Permata, hingga Gudeg Djumilan.

Salah satu gudeg legendaris di Yogyakarta yang sudah bertahan sejak sebelum kemerdekaan ialah Gudeg B Djuminten.

Gerai gudeg ini buka sejak 1926, dan sudah dikelola oleh tiga generasi.

Sutrisno, salah satu pegawai yang dipercaya mengelola tempat pertama Gudeg B Djuminten, mengatakan langgengnya kuliner tersebut berasal dari beberapa ciri khas yang dipertahankan.

Salah satunya kuah areh yang menghasilkan cita rasa gurih.

"Yang jadi ciri khas disini itu arehnya basah."

"Dari kelapa asli, jadi kental kayak kuah padang," ungkap Sutrisno kepada KompasTravel saat dikunjungi, Minggu (6/8/2017).

Karena kuah areh tersebut, gudeg ini memiliki ciri khas gurih.

Berbeda dengan gudeg lainnya yang didominasi rasa manis.

Suasana dapur Gudeg B. Djuminten saat memasak gudeg menggunakan kayu bakar, Minggu (6/8/2017).
Suasana dapur Gudeg B. Djuminten saat memasak gudeg menggunakan kayu bakar, Minggu (6/8/2017). (KOMPAS.COM / MUHAMMAD IRZAL ADIAKURNIA)

Selain itu, urusan dapur menjadi alasan usia Gudeg B Djuminten bertahan hingga hampir satu abad.

Joko (58) ialah orang yang bertanggung jawab terhadap olahan gudeg ini sejak tahun 1980-an. 

Untuk menjaga kualitas, ayamnya dimasak dengan bumbu semur selama satu setengah jam.

Tak perlu lama-lama menurutnya, karena ayam kampung yang dipakai berusia muda.

Halaman
12
Sumber: Kompas.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved