Breaking News:

Miris. Warga Bantul Harus Bertaruh Nyawa Saat Melintas di Jembatan Sungai Opak

Mereka sudah melaporkan keluhan warga ini ke pemerintah namun sampai saat ini belum ada tindakan perbaikan.

(KOMPAS.com/Markus Yuwono)
Papan peringatan untuk tidak melintas di jembatan gantung Kecamatan Pundong, Kabupaten Bantul, Yogyakarta, namun warga tetap nekat. 

TRIBUNSOLO.COM, YOGYAKARTA - Warga Dusun Nangsri di Desa Srihardono, dan Dusun Nambangan di Desa Seloharjo, Kecamatan Pundong, Kabupaten Bantul, Yogyakarta, dibayangi kekhawatiran setiap menyeberangi jembatan yang melintang di atas Sungai Opak.

Jembatan dengan lebar 1,5 meter itu memiliki total panjang 20 meter.

Ujung timur dan barat jembatan itu kira-kira sepanjang 5 meter sudah terbuat dari beton, sedangkan 10 meter di bagian tengah merupakan jembatan gantung beralas kayu dengan tiang penyangga yang sudah miring dan berkarat.

Jembatan sepanjang 10 meter dan lebar 1,5 meter itu terbuat dari bangunan beton pada bagian pinggirnya, sementara di tengah beralas kayu dengan tiang penyangga yang sudah miring dan berkarat.

Saat kendaraan melintas di atas badan jembatan yang terbuat dari alas kayu yang ditata, akan muncul suara 'glodak-glodak'.

Lalu di ujung jembatan pun merupakan bangunan beton.

Warga yang akan menyeberang juga harus melihat arah berlawanan karena mereka harus bergantian melintas. 

Bagian bawah jembatan dengan muka permukaan sungai kedalamannya sekitar 10 meter.

Kondisi ini sempat menjadi viral di media sosial beberapa waktu lalu.

Menurut Ari (40), warga Dusun Nambangan, jembatan dibangun tahun 2006 lalu dengan seluruh bangunan terbuat dari beton.

Halaman
12
Editor: Putradi Pamungkas
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved