Organisasi Sopir Taksi Reguler di Solo Menyesalkan Sikap Pemerintah Terkait Keberadaan Taksi Online

Dirinya mengatakan, akan berusaha agar hal tersebut tidak terjadi dengan terus memperjuangkan aksi penolakan taksi pelat hitam.

Penulis: Eka Fitriani | Editor: Hanang Yuwono
TribunSolo.com/Eka Fitriani
Suasana saat peserta demo menyuarakan tuntutan di Balai Kota Solo, Kamis (18/5/2017) 

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Eka Fitriani

TRIBUNSOLO.COM, SOLO – Perusahaan taksi Solo yang tergabung dalam Barisan Anti Angkutan Ilegal (Bantai) Solo Raya menyesalkan sikap pemerintah yang seolah tutup mata terhadap menjamurnya taksi pelat hitam.

Ketua Bantai Solo Raya, Pramono, mengatakan dirinya ingin pemerintah khususnya Menteri Perhubungan, mau mendengarkan keresahan para sopir taksi.

“Kita hanya sopir dan dibantu pengusaha, kita jelas menolak dan diundur-undur terus nantinya kita bisa mati itu, seperti saat kita dulu pas kecil, ada tukang pos sekarang anda tidak akan menemukan tukang pos yang mengirim surat-surat nah kita akan mati juga nanti,” katanya saat jumpa pers di Kantor Organda Solo, Selasa (5/9/2017) siang.

Dirinya mengatakan, akan berusaha agar hal tersebut tidak terjadi dengan terus memperjuangkan aksi penolakan taksi pelat hitam.

Baca: Terulang Lagi, Kate Middleton Alami Kondisi Ini saat Hamil Anak Ketiga

“Khususnya Dishub Solo saya heran perusahaan taksi mengajukan izin saja enggak mudah, tidak ditambah, yang online ini Anda bebaskan, Anda sebagai pemangku jabatan bagaimana,” tambahnya.

Jika memang ada payung hukum yang menangani hal tersebut, dia berharap nantinya akan ada kuota bagi taksi online.

Tercatat, untuk saat ini armada kuota taksi di Solo ada sebanyak 800 angkutan.

Angkutan tersebut tersebar di berbagai tempat seperti terminal induk, rumah sakit, hingga mal.

Dirinya menambahkan, bahwa sekarang yang terjadi, persoalan taksi di Solo tidak tergulasi dan terencana.

"Ketika pemerintah gagal hadir untuk meregulasi yang terjadi adalah semua akan dirugikan karena porsinya sebetulnya terbatas tapi harus dibagi seperti yang awalnya 1.500 menjadi 3.000, akhirnya tidak ada yang untung disini,” katanya.

Dilatarbelakangi hal tersebut, perusahaan taksi Solo yang tergabung dalam Barisan Anti Angkutan Ilegal (Bantai) Solo Raya akan mengikuti aksi penolakan keberadaan taksi pelat hitam di Semarang.

Para sopir taksi tersebut mengancam akan mengadakan aksi yang lebih besar jika aksinya tidak ditanggapi.

Sebanyak tujuh perusahaan taksi Solo akan ikut dalam aksi lanjutan demo menolak keberadaan taksi pelat hitam di Kantor Gubernur Jateng pada Kamis (7/9/2017) mendatang.(*)

Sumber: TribunSolo.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved