Sri Mulyani Blak-blakan, Ternyata Begini Analogi Sederhana Soal Utang Negara yang Bikin Resah

Namun ia juga mengimbau agar masyarakat tidak khawatir terlalu berlebihan hingga akan menyebabkan masyarakat resah dan berujung tidak produktif.

Penulis: Noorchasanah Anastasia Wulandari | Editor: Noorchasanah Anastasia Wulandari
Instagram/smindrawati
Menteri Keuangan, Sri Mulyani 

TRIBUNSOLO.COM - Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, angkat bicara soal utang pemerintah yang kini ramai dibicarakan.

Sri Mulyani pun memberi penjelasan panjang terkait permasalahan utang.

Beberapa waktu terakhir santer terdengar bahwa Indonesia dalam kondisi krisis utang.

Sri Mulyani juga menyoroti para politisi dan ekonom yang memberi perhatian lebih mengenai utang.

"Perhatian politisi dan beberapa ekonom mengenai kondisi utang beberapa bulan terakhir sungguh luar biasa. Dikatakan luar biasa dikarenakan isu ini dibuat dan diperdebatkan seolah-olah Indonesia sudah dalam kondisi krisis utang sehingga masyarakat melalui media sosial juga ikut terpengaruh dan sibuk membicarakannya," tulis Sri Mulyani.

Ia pun mengapresiasi tindakan para elit politik atas perhatian tersebut.

Namun ia juga mengimbau agar masyarakat tidak khawatir terlalu berlebihan hingga akan menyebabkan masyarakat resah dan berujung tidak produktif.

Sri Mulyani pun menjelaskan utang merupakan instrumen kebijakan dalam pengelolaan keuangan negara dan perekonomian.

Seharusnya sisi yang dilihat tidak hanya utang namun juga sisi aset yang merupakan akumulasi hasil belanja pemerintah.

Menteri Keuangan juga menjelaskan adanya kekurangan soal pemahaman masyarakat yang membandingkan jumlah nominal utang dan belanja modal.

Penjelasan panjang Sri Mulyani sebanyak 12 poin diakui oleh sejumlah warganet yang kebingungan.

Hingga seorang warganet bernama Rudi Kismo pun membantu dengan analogi yang lebih sederhana.

Saya tidak tahu ilmu ekonomi.
Analoginya mungkin begini: saya bekerja dengan gaji rutin tiap bulan yang cukup untuk menghidupi keluarga saya. Nah di kampung saya banyak orang yang memerlukan angkutan untuk membawa produk pertanian ke kota kecamatan. Untuk itu saya hutang mobil untuk dijadikan kendaraan angkutan umum. Di sini saya harus mencicil hutang sebagian dari gaji saya dan sebagian dari hasil pendapatan angkot. Betul saat ini saya punya hutang yang besar. Seiring waktu hutang berkurang dan dalam 3 tahun angkot lunas. Selama ini pula saya bisa menggaji satu orang sopir dan satu orang kernet. Karena mereka bekerja, mereka memiliki uang sehingga anaknya bisa sekolah, istrinya bisa beli ayam untuk dibiakkan dan anaknya bisa membeli dan memelihara kambing.

Angkot yg lunas tadi saya jual dan kembali saya hutang untuk beli angkot lagi. Usaha angkot tetap berjalan. Hasil penjualan angkot saya gunakan untuk membuat bangunan kecil di depan rumah dan saya jadikan toko kelontong. Saat bangun bangunan tadi saya memperkerjakan 5 buruh. Nah, buruh ini punya uang sehingga bisa buat tambahan biaya pembelian sapi. Setelah toko berdiri saya rekrut 2 pernah penjaga toko yang selama ini cuma luntang kantung tidak jelas.

Akhirnya setelah 3 tahun lagi saya bisa menjual angkot yang sudah lunas. Saat ini selain sebagai pegawai, saya punya angkot, toko, dan bisa memberi pekerjaan kepada beberapa orang. Kini saya hutang lagi untuk beli angkot dan bus. Disini tampak jelas hutang saya semakin besar, tapi jangan salah harta saya semakin banyak. Bahakn saya perlu sopir dan kernet bus. Saya akan kelola angkot, bus, dan toko dengan cara sebelumnya. Tentu semuanya harus saya kelola dengan cermat dan hati2x. Kalau ada hal yg buruk, saya masih bisa jual sebagian harta untuk melunasi hutang dan saya masih cukup harta untuk menjalankan hidup selanjutnya.

Nah begitulah negara berhutang dan mengelola hutangnya.

Jadi sudah pahamkah soal utang negara ini? (TribunSolo.com/Noorchasanah A)

Sumber: TribunSolo.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved