Dipasarkan hingga Jatim, 300 Gerabah Diproduksi Setiap Hari di Desa Bentangan, Wonosari, Klaten
Mayoritas masyarakat Desa Bentangan, Kecamatan Wonosari, Klaten berprofesi sebagai pengrajin gerabah.
TRIBUNSOLO.COM, KLATEN - Mayoritas masyarakat Desa Bentangan, Kecamatan Wonosari, Klaten berprofesi sebagai pengrajin gerabah.
Gerabah yang dibuat bervariasi seperti, lemper, celengan, anglo, dan lainnya.
"Para pengrajin rata-rata menghasilkan 300 buah gerabah dalam delapan jam kerja, "ujar Utami, seorang pengrajin gerabah saat ditemui TribunSolo.com, belum lama ini.
Utami menerangkan, gerabah-gerabah yang dihasilkan dipasarkan hingga ke Jawa Timur.
"Hasil kerajinan gerabah ini biasanya diambil oleh pengempul dari kota besar di Jawa tengah dan Jawa Timur, " imbuhnya.
Baca: Fahri Hamzah Singgung Fungsi DPR yang Sekarang Bertambah Menjadi 5 Fungsi
Setiap hasil pengrajin gerabah di jual dengan harga variansi.
Mulai dari Rp 500/perbuah untuk lemper, anglo Rp 7.000/perbuah dan kuwali Rp 3.000/perbuah.
Adapun gerabah dibuat dari tanah liat sebagai bahan dasar.
Alat yang digunakan dalam pembuatan gerabah yaitu perbot (alat yang untuk memutar), Dalim (kain/jarik yang sudah lama), dan Serat( bekas Rem).
Proses pembuatannya, tanah liat diletakkan di atas prebot dan kemudian dibentuk sampai sesuai bentuk yang diinginkan.
Setelah itu, gerabah ini akan dijemur sampai kering kemudian dibakar selama 7 jam.
Baca: Diperiksa 2,5 Jam oleh KPK, Putra dan Putri Setya Novanto Bungkam saat Ditanya Wartawan
Selain menjadi tempat produksi, Desa Bentangan juga menjadi desa edukasi dimana murid-murid Taman Kanak-kanak juga melakukan outingclass. (TribunSolo.com/Ambar Arum)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/solo/foto/bank/originals/gerabah_20180328_174756.jpg)