Pilkada Serentak 2018
FGD Pilkada Damai di Karanganyar, Tokoh Agama Ini Jelaskan Perbedaan Fundamentalisme dan Radikalisme
Dari penjelasannya, antara fundamentalisme dan radikalisme mempunyai kesamaan, orang-orang yang memperjuangkan apa yang mendasar.
Penulis: Efrem Limsan Siregar | Editor: Daryono
Laporan Wartawan TribunSolo.com, Efrem Siregar
TRIBUNSOLO.COM, KARANGANYAR - Kata fundamentalis dan radikalisme sering kali dianggap sama.
Namun, keduanya mempunyai perbedaan.
Tokoh agama yang juga dosen di UNS Surakarta Dr H Amir Mahmud memaparkan pengertian keduanya dalam Focus Group Discussion (FGD) Pilkada Damai 2018 yang dihadiri Forkompimda, tokoh agama, tokoh masyarakat dan sejumlah ormas, Rabu (16/5/2018).
Dari penjelasannya, antara fundamentalisme dan radikalisme mempunyai kesamaan, orang-orang yang memperjuangkan apa yang mendasar.
Orang memperjuangkan nilai-nilai kebenaran agamanya.
Baca: PKL Jebres Mengaku Harus Ajukan Proposal Terlebih Dulu demi Dapat Fasilitas Pemkot Solo
Dalam konteks I believe (saya percaya), katanya, semua orang, baik Nasrani juga harus meyakini kebenaran dalam agamanya.
Begitu juga dengan Muslim.
"Kehidupan beragama harus fundamental," ucapnya.
Dia mencontohkan konsep keyakinan dalam beragama itu terlihat, misalnya, pada orang yang menerapkan cara makan memakai tiga jari.
Lalu pada orang bergamis, berkopiah, dan bercelana cingkrang.
"Orang kadang kala menampakkan apa yang menjadi keyakinannyan, namun kita tidak perlu membesar-besarkan jika menyangkut hal keyakinan," terangnya.
"Orang fundamental dianggap tidak rasional, biar saja. Ini perbedaan yang diyakini."
Menurutnya, sejarah fundamental bisa ditemukan dalam ajaran Kristen dahulu.
Dari sejumlah literatur yang dibacanya, orang Kristen fundamentalisme, terangnya, adalah orang yang memaknai Kitab Sucinya secara harfiah atau tekstual.
Hal ini kemudian bisa ditemukan dalam sejumlah ajaran Islam tradisional.
Baca: Banyak Pilihan Menu, 5 Spot Berburu Jajanan Takjil di Kota Solo Ini Bisa Diserbu Saat Buka Puasa
Perkembangan radikalisme pun, sebutnya, berbanding lurus dengan fundamentalisme.
Merujuk bahasa Latin, Radikalisme ini berasal dari kata radix, radicis yang berarti akar.
Perubahan secara radikal, kata Amir Mahmud, berarti perubahan yang mengakar.
Orang fundamentalisme dan radikalisme adalah orang-orang yang bercita-cita kembali ke dasar suatu ajaran.
Hanya saja, orang-orang radikalisme, terang Amir Mahmud, justru mengkonotasikannya pada kekerasan secara fisik sampai kepada akar-akarnya.
Bedanya, orang radikalisme ini sudah berada dalam tataran tindakan.
Sementara fundamentalisme hanya sebatas pada keyakinan dalam sikap keagamaan.
Mengujar kebencian pun, katanya, termasuk di antaranya.
“Jika dia sudah mengujar kebencian, maka dia sudah termasuk radikalisme,” terangnya.
Baca: Bulan Ramadan, CFD Solo Dipastikan Tidak Libur
Sebabnya, menurut Amir, orang yang mengujar kebencian ingin mengubah keadaan.
Selain Amir Mahmud, FGD ini turut dihadiri Wakapolres Karanganyar Kompol Dyah Wuryaning Hapsari, pengasuh Pondok Pesantren Al Muayyad Surakarta KH M Dian Nafi, Mustain Ahmad selaku Kepala Kantor Kementerian Agama Karanganyar.
Lalu, ada KH Zainudin selaku Ketua MUI Karanganyar, KH Kusaeni Hadan selaku Ketua PC NU Karanganyar.
Kemudian, Agus Cipto Waluyo selaku Kepala Badan Kesbang dan Politik Kabupaten Karanganyar, Lettu Inf Tohar selaku Pasi Intel Kodim 0727 Karanganyar dan jajaran Kabag dan Kasat Polres Karanganyar.
Adapun tema FGD terkait pada meningkatkan peran tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh adar dan organisasi masyarakat dalam menjaga kondusifitas dan keamanan di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah.
Wakapolres Karanganyar Kompol Dyah Wuryaning Hapsari mengemukakan, secara umum, keamanan dan ketertiban masyarakat di Karanganyar sampai saat ini aman dan terkendali.
"Kita ingin Karanganyar makin kondusif setelah pertemuan ini," ucapnya.
Menyambut bulan Ramadan, Kapolres Karanganyar AKBP Henik Maryanto, mengimbau masyarakat baik muslim dan non muslim sama-sama saling menghormati.
"Yang muslim bisa menjalankan ibadahnya dengan baik dan bagi non muslim bisa menghormati dan toleran," katanya usai menghadiri Silutrahmi Forkompimda bersama Tokoh Agama, Tokoh Masyarakat, dan Elemen Masyarakat di Kantor Dinas Bupati, Selasa (15/5/2018).(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/solo/foto/bank/originals/focus-group-discussion-fgd-pilkada-damai-karanganyar-2018_20180517_135427.jpg)