Breaking News:

Mahasiswa Psikologi USB Solo Kenalkan Kearifan Lokal dengan Mendongeng di Pinggir Kali

Pengenalan nilai-nilai kearifan lokal ini dilakukan melalui media mendongeng dan permainan tradisional

Penulis: Imam Saputro | Editor: Putradi Pamungkas
TRIBUNSOLO.COM/IMAM SAPUTRO
Indigenous Psychology Community saat mendongeng dan mengenalkan permainan tradisional di Sukoharjo. 

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Imam Saputro

TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Setia Budi (USB) Surakarta yang tergabung dalam Indigenous Psychology Community, menggagas sebuah kegiatan bertajuk Dongeng dan Dolanan Pinggir Kali di Warung Kampung, Begajah, Sukoharjo, Selasa (29/5/2018).

Kegiatan ini diikuti oleh sekitar 80 anak dan keluarganya.

Tujuannya untuk mengenalkan nilai-nilai kearifan lokal kepada masyarakat.

Dengan didampingi oleh seorang Psikolog anak, yang juga merupakan dosen di Fakultas Psikologi Universitas Setia Budi, Yustinus Joko Dwi Nugroho, kegiatan ini mengangkat tema “Kearifan Lokal Untuk Kesehatan Fisik dan Psikologis”.

Baca: Kamis Dini Hari Tadi Densus Tangkap Terduga Teroris di Kota Probolinggo, Ini Barang Buktinya

Joko mengatakan dalam kegiatan ini, pengenalan nilai-nilai kearifan lokal ini dilakukan melalui media mendongeng dan permainan tradisional.

Menurutnya permainan tradisional saat ini dinilai mulai tergerus oleh kecanggihan alat permainan masa kini.

"Maka di kegiatan ini anak-anak diajak untuk memainkan berbagai macam permainan tradisional di antaranya permainan kelereng (gundu), lompat tali, bermain bola bekel, bermain dakon (congklak), serta permainan engklek," kata Joko, Rabu (30/5/2018).

Joko menerangkan, banyak hal positif secara psikologis yang bisa diambil dari permainan tradisional ini.

Baca: Prijo Anggoro Akan Serahkan Bantuan Operasional Ketua RT dan RW di Karanganyar

"Seperti melatih sosialisasi, ketrampilan motorik, pelampiasan emosi-emosi yang negatif dari individu, sebagai media play therapy dan lain sebagainya,” tambah Joko.

Selain fokus pada psikologis masing-masing anak, acara ini juga bertujuan mempererat hubungan psikologis antara anak dan orang tua.

"Fenomena saat ini ada permasalahan di masyarakat yang bermula dari hubungan anak dan orang tua yang kurang harmonis, maka kegiatan seperti ini bisa mencegah hal itu dengan lebih mengeratkan hubungan anak dengan orang tua," kata dia.

Indigenous Psychology Community sudah beberapa kali mengisi kegiatan di Car Free Day Kota Surakarta dengan menampilkan berbagai macam permainan tradisional.

Baca: Wali Kota Solo Dijadwalkan Beraudiensi dengan Perkumpulan Masyarakat Surakarta (PMS)

Kegiatan ini juga didukung oleh beberapa pihak antara lain grup band Blueskala, komunitas dongeng Kincir dan komunitas dongeng dari BNN Kabupaten Sukoharjo.

Kegiatan Dongeng dan Dolanan Pinggir Kali ini diakhiri dengan pembagian takjil dan buka puasa bersama. (*)

Sumber: TribunSolo.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved