Melihat Cantiknya Bunga-bunga di Rumah Atsiri Indonesia di Tawangmangu Karanganyar
Sebelum menjadi Rumah Atsiri Indonesia, bangunan ini dahulu merupakan pabrik citronella yang dibangun semasa kepempimpinan Presiden Soekarno
Penulis: Efrem Limsan Siregar | Editor: Putradi Pamungkas
Laporan Wartawan TribunSolo.com, Efrem Siregar
TRIBUNSOLO.COM, KARANGANYAR - Hamparan tanaman penghasil minyak esensial menghiasi pekarangan Rumah Atsiri Indonesia, Desa Plumbon, Kecamatan Tawangmangu, Karanganyar Karanganyar, Jawa Tengah.
Pengunjung bisa menyaksikan bermacam bunga dengan warna-warna cerah.
Bunga-bunga itu ditanam terpisah dalam beberapa petak tanah di halaman restoran.
Karena keindahannya, beberapa pengunjung tampak mengabadikan pekarangan tersebut dalam kamera ponsel mereka.
• Besok Pagi Perayaan HUT ke-8 CFD Dipusatkan di Simpang Empat Ngarsopuro Solo
Rumah Atsiri Indonesia di Tawangmangu ini memiliki nilai sejarah.
Natasha Clairina, Direktur Rumah Atsiri Indonesia, menjelaskan, sebelum menjadi Rumah Atsiri Indonesia seperti sekarang, bangunan ini dahulu merupakan pabrik citronella yang dibangun semasa kepempimpinan Presiden Soekarno pada 1963.
Pabrik citronella saat itu diketahui penah menjadi penghasil minyak atsiri terbesar di Indonesia.
Sayangnya, kejayaan itu hilang lantaran pengelolaan pabrik citonella tidak terurus selama puluhan tahun.
• Muhaimin Iskandar Nyatakan PKB Resmi Dukung Jokowi di Pilpres 2019
"Akhirnya, ketika pabrik citronella dilelang, orangtua saya membelinya pada 2015," kata Natasha kepada Tribunsolo.com, Kamis (12/7/2018).
Sang ayah, Paulus Mintarga yang memang sudah lama mengagumi desain pabrik citronella.
Ditambah lagi keberadaan pabrik dikelilingi panorama Gunung Lawu.
Paulus mendesain ulang pabrik tersebut sejak 2016 hingga menjadi Rumah Atsiri sekarang ini.
Bangunan lama pabrik tetap dipertahankan.
• Via Vallen Ternyata Turut Serta Ajak Ayah Tonton Piala Dunia 2018 di Rusia, Fotonya Banjir Pujian
Bunga Mawar Bulgaria (Rosa damascena P. Mill) yang ada sejak pabrik berdiri terlihat masih mekar bersama tanaman-tanaman lain di sekitarnya.
Beberapa bunga lain yang bisa ditemukan di antaranya Kemangi dan Rosemary.
Selain tanaman wewangian, pihak Rumah Atsiri Indonesia juga mengembangkan pelbagai macam tanaman mint, semisal chocolate mint herb, horse peppermint, dan sebagainya.
Secara keseluruhan, pekarangan Rumah Atsiri seluas 2,4 hektar nyaris dicerahkan oleh warna kembang dan hijaunya tanaman penghasil minyak artsiri.
Untuk melengkapi konsep eduwisata dan museum, Rumah Atsiri juga dilengkapi dengan kelas edukasi Atsiri.
• Jelang Kirab SBC di Solo Sore Ini, Warga Sambut Antusias
“Kelas dibuka tiga kali sehari setiap Sabtu dan Minggu. Anak-anak diajarkan membuat bathbomb, minyak telon, atau sabun,” jelas Natasha.
Namun, untuk sementara waktu, pengunjung belum bisa menyusuri semua tempat di Rumah Atsiri Indonesia.
Rumah Atsiri masih dalam tahap pengerjaan dan memang belum dibuka resmi.
Pengunjung hanya bisa menikmati fasilitas restoran, area bunga, atau kelas atsiri.
• 144 Atlet Asal Karanganyar Bakal Ikuti Porprov Jateng 2018 di Kota Solo
Meski belum dibuka resmi, Natasha mengungkapkan, dalam sehari Rumah Atsiri Indonesia dikunjungi sekitar 100 pengunjung.
Di akhir pekan, angka kunjungan akan naik menjadi sekitar 300 pengunjung.
Mayoritas pengunjung merupakan bersala dari kalangan keluarga yang membawa sera anak-anak mereka.
Tenang saja, Natasha mengatakan dalam beberapa bulan ke depan, pengerjaan Rumah Atsiri Indonesia diperkirakan akan rampung.
Jika sudah selesai, semua fasilitas bisa dinikmati, termasuk memetik dan memakan sendiri daun mint langsung dari batang tanamannya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/solo/foto/bank/originals/pekarangan-bunga-di-rumah-atsiri-indonesia-kecamatan-tawangmangu-karanganyar_20180714_152918.jpg)