Geliat Pembuat Alat Musik di Solo

Ironi Gamelan Gong: Dibuat di Jawa, tapi Lebih Lestari di Bali

Menurut perajin gong Desa Wirun, Kecamatan Mojolaban, alat musik gamelan, termasuk gong lebih lestari di Bali ketimbang di Jawa.

Penulis: Fachri Sakti Nugroho | Editor: Sri Juliati
wikimedia.org
Alat musik gamelan: Gong 

TRIBUNSOLO.COM - Bila menyebut pembuat gong di Solo, orang akan langsung menyebut Desa Wirun, Kecamatan Mojolaban, Sukoharjo.

Desa Wirun lebih kondang disebut desa pembuat gong dan moncer hingga di luar Kota Solo bahkan internasional.

Ya, pada masa jayanya dulu, gong buatan perajin Desa Wirun mampu menembus pasar ekspor ke luar negeri.

Satu di antaranya gong buatan keluarga Ari Istuti (38) yang dibeli konsumen dari Jepang, Brunei, Malaysia, dan Singapura.

Namun kini, pesanan gong tak lagi sebanyak dulu, tapi tetap ramai lancar.

Konsumennya pun justru lebih banyak berasal Bali.

Menurut Ari, alat musik gamelan, termasuk gong lebih lestari di Bali ketimbang di Jawa.

Kondisi ini membuat Ari khawatir pada kelestarian budaya peninggalan nenek moyang tersebut karena semakin ditinggalkan.

"Di Bali, anak-anak kecil sudah tahu gamelan dan gong. Saya sampai heran. Itulah hebatnya orang Bali," tutur Ari, Kamis (26/7/2018).

Sementara orang Jawa, lanjut Ari, kini tak banyak yang bisa memainkan gamelan.

Wanita berusia 38 tahun itu memang kerap mengirim pesanan gong dan gamelan produksinya ke Bali.

Di sana, ia melihat banyak anak yang sudah jago memainkan perangkat gamelan.

Kondisi tersebut jauh berbeda dengan di Jawa, yang sudah mulai jarang ditemui seorang 'niyaga' atau penabuh gamelan, terutama anak-anak.

Hal ini pun menjadi ironi karena gong di Bali dipesan dan dibeli dari Jawa.

(Tribun/Fachri Sakti Nugroho)

Sumber: TribunSolo.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved