Di UKM Orkes Melayu Vegasta, Mahasiswa ISI Solo Bikin Dangdut Tetap Asyik Tanpa Lirik Nakal

Meski sedang tenar, tetapi, menurut penuturan Maha, musik dangdut yang diusung OM Vegasta berbeda dari yang lain.

Di UKM Orkes Melayu Vegasta, Mahasiswa ISI Solo Bikin Dangdut Tetap Asyik Tanpa Lirik Nakal
Dok. Mahanufi Faiza Hida
Para penyanyi OM Vegasta tampil dalam Konser Kemilau Vegasta di halaman rektorat ISI Surakarta, Kamis (30/3/2017) 

Laporan wartawan Tribun-Video.com, Eleonora Padmasta Ekaristi Wijana

TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Institut Seni Indonesia (ISI) Solo menampung minat dan bakat mahasiswanya terhadap aliran musik yang kini sedang naik daun, dangdut.

Para mahasiswa yang mempunyai ketertarikan pada dangdut itu tergabung dalam unit kegiatan mahasiswa Orkes Melayu (UKM OM Vegasta) ISI Solo.

Satu di antaranya yakni Mahanufi Faiza Hida (22), mahasiswi Seni Teater ISI, yang dulunya menjabat ketua OM Vegasta pada 2016. 

Maha, sapaan akrabnya, mengaku senang saat ini musik dangdut diperdengarkan di banyak tempat dan menjadi lebih dikenal masyarakat.

"Saya senang, apalagi musik dangdut kan asli Indonesia. Ya karena Via Vallen juga, sekarang jadi bisa menyetarai musik barat lah. Soalnya selama ini kan musik dangdut dianggap rendah, dianggap musik kalangan bawah," ungkap Maha saat ditemui di Kampus I ISI Surakarta, Jalan Ki Hadjar Dewantara No 19, Jebres, Surakarta, Selasa (24/7/2018).

Penyanyi OM Vegasta
Para penyanyi OM Vegasta tampil dalam Konser Kemilau Vegasta di halaman rektorat ISI Surakarta, Kamis (30/3/2017)

Meski sedang tenar, tetapi, menurut penuturan Maha, musik dangdut yang diusung OM Vegasta berbeda dari yang lain.

"Kebanyakan dangdut di luar hanya have fun, kalau kami, di UKM ini, pertunjukannya di-manage sedemikian rupa biar greget," ungkap wanita yang dulunya vokalis band beraliran pop ini.

"Kami pun enggak cuma membawakan lagu dangdut zaman now, tapi juga yang klasik dengan sedikit pengubahan aransemen biar tetap enak didengar. Kadang kami juga menuruti penonton, kalau minta ditambahi 'hak e hak e', bisa juga," tambahnya.

Berdasarkan pengalamannya selama berorganisasi di UKM dangdut dan musik Melayu, Maha kerap menyanyi di berbagai acara.

"Kami selalu ada konser di awal tahun, di bulan Ramadan sambil bagi-bagi takjil, pada Oktober saat ulang tahun UKM, kadang dipanggil untuk mengisi acara prodi (program studi) lain, di nikahan, pengajian, bahkan di seminar nasional," jelas Maha.

Namun, untuk mempertahankan keunikannya, OM Vegasta tak pernah menampilkan lagu dangdut yang bermakna cabul.

"Banyak kan lagu-lagu dangdut yang liriknya nakal. Kami enggak pernah membawakan lagu-lagu seperti itu karena kami akademisi. Diberi 'hak e hak e' tapi yang sopan," lanjut Maha.

Bahkan, di acara pernikahan, Maha menjelaskan, musik dangdut yang dibawakan OM Vegasta terkadang harus disesuaikan dengan peraturan.

"Saya pun sering, kalau ada job nikahan di gedung, dilarang nyanyi dangdut. Tapi kita tetap membawakan musik dangdut, tapi aransemennya diubah sedikit menjadi terdengar agak seperti keroncong atau lebih kalem lah," ungkap Maha.(*)

Penulis: Eleonora Padmasta E. W.
Editor: Aji Bramastra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved