Diberi Gelar KPH oleh Raja Mangkunegaran Solo, Gatot Nurmantyo Disebut sebagai Keturunan PB III

Tiga di antaranya adalah mantan Panglima TNI, Jend (Purn) Gatot Nurmantyo, Hutomo Mandala Putra atau Tommy Soeharto dan pengusaha Sigid Haryo Wibisono

Penulis: Facundo Crysnha Pradipha | Editor: Daryono
TRIBUNSOLO.COM/CHRYSNHA PRADIPHA
Mantan Panglima TNI, Jend (Purn) Gatot Nurmantyo, usai mendapat gelar bangsawan dalam peringatan naik tahta ke-31 KGPAA Mangkunagoro IX, di Pendopo Pura Mangkunegaran, Solo, pada Rabu (19/9/2018) malam. 

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Chrysnha Pradipha

TRIBUNSOLO.COM, SOLO -  Sebanyak 43 orang telah diwisuda atau mendapat gelar bangsawan dari Raja Mangkunegaran Solo, Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA), Mangkunagoro IX.

Tiga di antaranya adalah mantan Panglima TNI, Jend (Purn) Gatot Nurmantyo, Hutomo Mandala Putra atau Tommy Soeharto, dan pengusaha Sigid Haryo Wibisono.

Seperti diberitakan sebelumnya, penyerahan gelar dilakukan dalam upacara pahargyan atau resepsi perayaan naik tahta ke-31 Mangkunagoro IX, di Pendopo Pura Mangkunegaran, Solo, pada Rabu (19/9/2018) malam.

Termasuk Gatot Nurmantyo, 43 Orang dapat Gelar Bangsawan dari Raja Mangkunegaran Solo

Gatot pun mendapat gelar nama Pangeran Haryo atau disebut juga dengan Kanjeng Pangeran Haryo (KPH).

Sama halnya dengan Tommy Soeharto mendapat sebutan KPH H. Hutomo Mandala Putra dan Sigid mendapat sebutan KPH Sigid Harjo Wibisono.

Gatot, ditemui usai acara mengaku, tidak mengetahui bisa memperoleh gelar tersebut.

Kata dia, keluarga Mangkunegaran yang melakukan penelusuran silsilahnya.

Hingga diketahui jika dia merupakan keturunan Paku Buwono III, raja Keraton Kasunanan Surakarta (Keraton Solo) saat itu.

Penelusuran silsilah tersebut, lanjut Gatot, sudah dilakukan sejak dirinya menjadi KSAD (Kepala Staf Angkatan Darat).

Akhirnya, gelar tersebut baru diberikan Mangkunagoro IX malam itu.

"Memang pihak Mangkunegaran menunggu setelah saya pensiun, latar belakangnya kenapa saya mau, karena ini adalah menyatukan," jelasnya.

"Jadi sama-sama kita tilik sejarah RM Said (Mangkunagoro I) oleh Paku Buwono (PB III) itu dianggap pemberontak, itu adalah kiat kolonialisme," katanya.

Penerimaan CPNS 2018, Pemkab Karanganyar Buka 354 Formasi, Ini Pengumumannya

"Kemudian oleh PB III, paham tentang itu merangkul, lahirlah perjanjian Salatiga, jadi disatukan, diberikan penjelasan seperti itu," imbuhnya.

"Saya berpikir menyatukan tulang belulang kan bagus, mudah-mudahan ini bisa menyatukan semuanya."

Orang yang pernah memimpin seluruh jajaran TNI ini juga berpendapat, pelestarian budaya Jawa wajib terus dilakukan.

Baginya, budaya merupakan kekayaan bangsa.

"Budaya merupakan suatu yang bagus, maka pelestarian budaya kewajiban kita semua jarena budaya Indonesia budaya unggul," tegasnya. (*)

Sumber: TribunSolo.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved