Mengenal Jemparingan, Cara Melatih Fokus Ala Ksatria Mataram

Filosofi Jemparingan tidak sekadar olahraga panahan tetapi bentuk seni olah rasa. Pemanah butuh konsentrasi tinggi dan ketenangan.

Penulis: Imam Saputro | Editor: Hanang Yuwono
TRIBUNSOLO.COM/IMAM SAPUTRO
Gladhen alit Sipas Solo yang diikuti pemanah tradisional dari Solo Raya di Sriwedari Solo, Sabtu (22/12/2018). 

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Imam Saputro

TRIBUNSOLO.COM, SOLO -  Semut Ireng Pop Archery Surakarta (Sipas) merupakan salah satu komunitas panahan tradisional di Kota Solo.

Uniknya, ketika berlatih setiap selapan atau 35 hari sekali, anggota Sipas mengenakan busana Jawa ala Ksatria Mataram.

Seperti ketika Gladhen Alit di Sriwedari, Solo pada Sabtu Legi (22/12/2018), ada sekitar 40 pria dan wanita yang berlomba titis (tepat sasaran) membidik target berupa bandul berupa tabung sepanjang 30 cm berwarna merah, kuning, putih, dan hitam ini.

“Yang pria berblangkon, baju surjan maupun beskap, juga jarik, sedangkan yang perempuan mengenakan kebaya dan jarik,” kata Ketua Sipas Solo, Aswin Zunan ketika gladhen alit atau latihan bersama di kompleks Sriwedari,Solo, Sabtu (22/12/2018).

Pria AS Tewas Dipanah Penghuni Pulau Sentinel, Pemerintah India tak Berencana Ambil Jenazahnya

Menurutnya, filosofi Jemparingan tidak sekadar olahraga panahan tetapi bentuk seni olah rasa.

Pasalnya, pemanah butuh konsentrasi tinggi dan ketenangan dalam melepas anak panahnya agar tepat sasaran.

Gladhen alit Sipas Solo yang diikuti pemanah tradisional dari Solo Raya di Sriwedari Solo, Sabtu (22/12/2018).
Gladhen alit Sipas Solo yang diikuti pemanah tradisional dari Solo Raya di Sriwedari Solo, Sabtu (22/12/2018). (TRIBUNSOLO.COM/IMAM SAPUTRO)

“Jemparingan itu pertama fisik harus kuat dan latihan batin tiap pelakunya, kalau pikirannya sedang kemana-mana atau tidak fokus, maka tidak titis(tidak kena sasaran),” terangnya.

Ia mengatakan selain mengenakan busana Jawa, para pemanah juga harus dalam posisi duduk ketika memanah.

Tak Kalah dengan Aksi Motor, Jokowi Pamer Skill Memanah di Opening Ceremony Asian Para Games 2018

“Dari pengalaman saya, duduk itu posisi paling berat ketika memanah,jadi jemparingan ini memang membutuhkan fokus tinggi,” terangnya.

Dalam kejuaraan, biasanya para pemanah duduk bersila dalam beberapa putaran.

Mereka membidik sasaran di tiga kelas, yakni di 30 meter, 40 meter atau 50 meter.

“Sasarannya namanya bandul, misalkan kena kena kepala yang warna merah nilai 3, leher warna kuning nilai 2 dan badan atau yang putih nilai 1, sedangkan kena hitam itu malah minus 1,” terangnya.

30 Anak Binaan Rumah Zakat Solo Ikuti Olahraga Memanah di Taman Cerdas Sumber

“Jemparing bukan sekadar memanah tapi mengolah rasa, bersila, konsentrasi, tapi juga membutuhkan perasaan sehingga menghasilkan ketenangan, ketenangan ini merupakan filosofi utama agar bisa tepat sasaran,” tegasnya.

Aswin mengakui meski kini Jemparingan sudah dicoret dari Pekan Olahraga Nasional (PON) sejak PON 2008, namun demikian peminat panahan tradisional ini tetap mengalami kenaikan.

“Sebenarnya kalau atlet sudah mahir di jemparingan, maka ke panahan modern akan bagus, karena di jemparingan itu polosan, tidak memakai alat bantu, fokusnya juga terlatih,” pungkas Aswin.(*)

Sumber: TribunSolo.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved