Metode Gasifikasi pada PLTSa Putri Cempo Solo Dianggap Ramah Lingkungan
PT PLN menyebut adanya Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) melalui proses gasifikasi disinyalir sangat ramah lingkungan.
Penulis: Garudea Prabawati | Editor: Noorchasanah Anastasia Wulandari
Laporan Wartawan Tribunsolo.com, Garudea Prabawati
TRIBUNSOLO.COM, SOLO - PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) atau PT PLN menyebut adanya Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) melalui proses gasifikasi disinyalir sangat ramah lingkungan.
Amir Rosidin, selaku Direktur Bisnis Regional Jawa Bagian Tengah PT PLN berujar proyek percontohan nasional dalam pengolahan sampah menjadi listrik dengan metode gasifikasi ini dipusatkan di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Putri Cempo Kota Solo.
"Pengolahan sampah menggunakan teknologi konversi thermal melalui proses gasifikasi ini sebagai solusi menangani masalah sampah di kota, yakni dengan memanfaatkan sampah tersebut," katanya kepada TribunSolo.com, di sela penandatanganan Perjanjian Jual Beli Listrik dari PLTSa Surakarta antara PT PLN Unit Induk Distribusi Jawa Tengah dan DIY dengan PT Solo Citra Metro Plasma Power (PT SCMPP) di Rumah Dinas Wali Kota Surakarta Loji Gandrung, Jumat (28/11/2018).
Sementara Direktur Utama PT Solo Citra Metro Plasma Power (SCMPP), Erlan Suherlan, berujar dengan proses gasifikasi untuk pengolahan sampah ini telah terbukti selama bertahun-tahun untuk mengubah batubara atau biomassa menjadi gas sintetik (syngas).
• Proyek PLTSa Putri Cempo Solo Dimulai, Tahap Pertama Butuh Waktu 1,5 Tahun
Gas sintetis ini kemudian dapat dikonversi menjadi bentuk energi lain seperti biofuel, etanol, dan pastinya listrik.
"Keuntungan utama menggunakan teknologi ini adalah ramah lingkungan tidak menghasilkan limbah beracun tidak menghasilkan polutan," katanya.
Selain itu, memiliki efisiensi yang sangat tinggi produk samping dari proses ini adalah abu dan garam
Lantas berikut adalah proses pengolahan sampah menjadi listrik melalui metode gasifikasi yakni melalui proses pirolisis
"Pada tahap pertama ini kami akan mengembangkan PLTSa dengan produksi listrik sebesar 5 mega watt (MW)," katanya.
Sementara untuk target jangka panjang, ia mengatakan totalnya dibutuhkan sekitar 450 ton sampah untuk bisa menghasilkan listrik sebesar 10 MW.
"Kalau volume sampah di TPA Putri Cempo, sekitar 1,6 juta ton, sehingga dapat dikatakan produksi sampah akan cukup untuk proses tersebut," tutupnya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/solo/foto/bank/originals/perjanjian-jual-beli-listrik-pltsa-putri-cempo-solo.jpg)