Imlek 2019

Perayaan Imlek 2019 di Solo: Ciri Khas Tradisi, Shio, hingga Pernak-pernik yang Penuh Filosofi

Solo sebagai kota dengan masyarakat yang heterogen, tak pernah ketinggalan untuk turut memeriahkan Tahun Baru Imlek.

Perayaan Imlek 2019 di Solo: Ciri Khas Tradisi, Shio, hingga Pernak-pernik yang Penuh Filosofi
TRIBUNSOLO.COM/HANANG YUWONO
Suasana khas Imlek 2019 di kawasan Pasar Gede Solo, Sabtu (26/1/2019). 

Grebeg Sudiro merupakan bentuk akulturasi budaya atau perayaan dari perpaduan budaya masyarakat Tionghoa dan Jawa yang ada di Solo.

Berdasarkan catatan Wikipedia, grebeg adalah tradisi khas Jawa untuk berebut makanan yang telah disusun membentuk sebuah gunungan.

Karena perpaduan dengan tradisi Tionghoa, gunungan makanan di sini berisikan kue keranjang dan kue-kue khas Tionghoa lainnya.

Dinamakan Sudiro karena perayaan dilakukan di kawasan Kelurahan Sudiroprajan, tepatnya di depan Pasar Gede.

Sudah dilakukan sejak tahun 2007, Grebeg Sudiro menjadi lambang persaudaraan antar suku dan keragaman masyarakat Kota Solo untuk hidup selaras dan berdampingan.

Warga berdesakan saat berebut kue keranjang di depan Pasar Gede saat Kirab Grebeg Sudiro, Solo, Minggu (3/2/2019)
Warga berdesakan saat berebut kue keranjang di depan Pasar Gede saat Kirab Grebeg Sudiro, Solo, Minggu (3/2/2019) (TRIBUNSOLO.COM/EKA FITRIANI)

Tak sekedar perayaan belaka, momen Imlek juga menjadi ajang untuk berkumpul dengan keluarga, berintrospeksi diri, memperbaiki sikap agar lebih baik, hingga mencari hoki (peruntungan).

Kesemuanya itu dilakukan lewat tradisi-tradisi yang sakral.

Di antaranya sembahyang Imlek di klenteng.

Ibadah ini merupakan bentuk syukur dan pengharapan atas rezeki berlimpah dan kesehatan di sepanjang tahun.

Meski banyak sekali tradisi-tradisi sakral yang dilakukan, ternyata Imlek juga memiliki pantangannya.

Halaman
1234
Penulis: Delta Lidina
Editor: Wahid Nurdin
Sumber: TribunStyle.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved