Imlek 2019

Perayaan Imlek 2019 di Solo: Ciri Khas Tradisi, Shio, hingga Pernak-pernik yang Penuh Filosofi

Solo sebagai kota dengan masyarakat yang heterogen, tak pernah ketinggalan untuk turut memeriahkan Tahun Baru Imlek.

Perayaan Imlek 2019 di Solo: Ciri Khas Tradisi, Shio, hingga Pernak-pernik yang Penuh Filosofi
TRIBUNSOLO.COM/HANANG YUWONO
Suasana khas Imlek 2019 di kawasan Pasar Gede Solo, Sabtu (26/1/2019). 

Ada beberapa hal yang sama sekali tak boleh dilakukan.

Tokoh masyarakat Tionghoa yang juga Ketua Panitia Bersama Imlek 25702019 di Solo, Sumartono Hadinoto menjelaskan jika potong rambut dan bersih-bersih rumah dilarang dilakukan.

"Potong rambut nggak boleh, bersih-bersih rumah nggak boleh karena dewa dapur dan dewa uang itu datang pada saat tahun baru untuk membagikan uang jadi kalau kita sapu kan ilang kabeh (hilang semua -red)," ujar Sumartono saat diwawancarai TribunSolo.com.

Mengenakan pakaian warna hitam atau putih pun dilarang karena ini dianggap sebagai simbol berkabung.

Jika hal-hal terlarang tersebut dilakukan, hal ini justru memengaruhi keberuntungan selama setahun penuh ke depan.

Meski warna hitam dan putih dilarang, saat imlek justru orang-orang ramai dengan warna merah.

Warna Merah yang khas

Momen Imlek tidak akan semeriah kelihatannya saat tidak ada warna merah.

Merah, menjadi warna yang begitu khas akan datangnya Imlek.

Merah menempati warna yang paling sering dipakai ketika Tahun Baru Imlek tiba.

Entah itu bisa disematkan pada baju, lampion, pembungkus makanan, pernak-pernik Imlek, hingga riasan di wajah para wanita oriental.

Perayaan Tahun Baru Imlek identik dengan warna merah dan lentera merah.
Perayaan Tahun Baru Imlek identik dengan warna merah dan lentera merah. (TribunStyle.com/Desi Kris)

Hal ini tidak sekedar warna biasa, ternyata pengambilan tema merah ini memiliki makna mendalam di baliknya.

Sumartono menjelaskan kembali secara rinci tentang arti tersirat dari warna merah saat perayaan Imlek.

"Jadi kalau yang saya tahu merah ini artinya sangat-sangat luas, satu, gagah berani termasuk bendera kita, dua, merah ini tolak bala, kalau kita lihat dari beberapa kepercayaan, patung kalau dikasih merah itu menghindari masuknya roh jahat," ujar Sumartono.

Selanjutnya, Sumartono menjelaskan dua makna lainnya.

"Tiga merah itu bahagia, dan empat semangat, inilah semua hal-hal yang baik kita selalu ambilnya merah," tambahnya.

Dilansir oleh laman Reader's Digest, warna merah bagi orang-orang Tionghoa berawal dari legenda yang berasal dari negeri China.

Hal ini erat kaitannya dengan Nian, seekor binatang buas berwujud banteng berkepala singa.

Hewan ini selalu mengganggu dan meneror masyarakat ketika tahun baru tiba.

Konon, makhluk ini sangat takut dengan api, kebisingan, dan warna merah.

Untuk mengalahkan Nian, masyarakat lantas memasang warna merah dan membunyikan tabuhan-tabuhan yang bising jelang tahun baru.

Sejak saat itulah, warna merah dipercaya sebagai tolak bala dan masyarakat Tionghoa justru merasa aman dengan adanya energi merah.

Tidak heran jika datangnya Tahun Baru Imlek selalu identik dengan warna merah dan tabuhan-tabuhan berbagai alat musik Chinese.

Pernak-pernik

Banyak sekali pernak-pernik khas yang berbau Imlek dan sebagian besar berwarna merah bercampur emas.

Hal yang paling ditunggu-tunggu saat Imlek adalah berbagi angpao.

Angpao ini biasanya diberikan oleh orangtua kepada anak-anak maupun kerabat yang belum menikah.

Dalam kepercayaan masyarakat Tionghoa, uang yang diberikan tidak boleh mengandung unsur angka 4 dan angka ganjil karena konon dianggap membawa sial.

Di Solo, sejumlah penjual pernak-pernik Imlek mengaku kebanjiran untung.

Jeffry, pemilik Toko Kageha yang ada di Jalan Urip Sumoharjo, Solo, saat ditemui TribunSolo.com, mengatakan jika amplop merah banyak diburu oleh pembeli yang merayakan Imlek.

Penjual baju khas Tionghoa pun juga ikut kecipratan rezeki.

Toko Surya Fashion Solo yang menjajakan pakaian cheongsam dan changsan ramai dikunjungi pembeli.

Baju khas Imlek yang dijual di Kios Surya Fashion di kawasan Pasar Gede Solo, Sabtu (26/1/2019).
Baju khas Imlek yang dijual di Kios Surya Fashion di kawasan Pasar Gede Solo, Sabtu (26/1/2019). (TRIBUNSOLO.COM/HANANG YUWONO)

Dikutip dari berbagai sumber, Cheongsam mulai dikenal dunia pada tahun 1920 -1949, hingga menjadi pakaian perempuan di seluruh daratan Tiongkok.

Tetapi sejarah mencatat, cheongsam sudah ada sejak tahun 1636, tepatnya saat pemerintahan Manchu.

Di setiap pernak-pernik pasti memiliki arti filosofi yang dalam.

Misalnya saja dalam hal kuliner.

Kuliner khas Imlek yang sering diburu adalah kue keranjang.

Kue keranjang adalah kuliner yang terbuat dari gula dan ketan.

Kue Keranjang menjadi salah satu makanan khas saat perayaan Tahun Baru Imlek.
Kue Keranjang menjadi salah satu makanan khas saat perayaan Tahun Baru Imlek. (TribunStyle.com/Desi Kris)

Makanan ini memiliki tekstur yang lengket padat dan berasa manis.

Kue keranjang ini ternyata punya filosofi mendalam di baliknya.

"Kalau setahu saya kue keranjang ini dibuat dari gula dan ketan, karena supaya erat, kelet (lengket -red), kelet itu dianggap hubungan keluarga semakin erat, manis hubungan keluarga jadi harmonis, kekeluargannya lebih manis kira-kira seperti itu," ujar Sumartono saat ditemui TribunSolo.com.

Selain kue keranjang, tebu juga menjadi hal yang spesial saat Imlek.

Tebu ini menggambarkan hubungan keluarga yang semakin manis dan harmonis.

"Semua yang dipilih kalau kita orang jawa jenang, jenang abang putih semua itu ada maknanya termasuk ada lontong cap go meh dan tebu itu ya berluas-luas, semakin ke atas kemudian manis, ini semua maknanya diambil dari situ sebetulnya," ucap Sumartono.

Tebu yang dipasang di rumah ini merupakan bagian dari tradisi untuk mengucap syukur dan mencegah marabahaya.

Di Kota Solo, pernak-pernik yang dijual cukup beragam.

Yang tak ketinggalan adalah barongsai mini.

Barongsai dan juga Liong menjadi ciri khas yang tak bisa terpisahkan dari Imlek.

Perjalanan Barongsai di Solo cukup panjang.

Abdurrahman Wahid, kebudayaan Tionghoa semakin berkembang.

Para Barongsai yang sedang beraksi
Para Barongsai yang sedang beraksi (ambar purwaningrum/TribunSolo.com)

Tepat pada Februari 1999, untuk pertama kalinya, Imlek diijinkan dirayakan di Solo.

"Saat itu Imlek dirayakan di Pusat Stasiun Sriwedari. Perayaan Imlek yang pertama kali itu dimeriahkan oleh kesenian Barongsai," kata Adjie Chandra, Pembina Barongsai Tripusaka saat ditemui TribunSolo.com.

Selain sebagai tradisi, pertunjukan Barongsai dan Liong menjadi sebuah hiburan bagi masyarakat.

Shio

Di setiap tahunnya, selalu memiliki shio atau lambang binatang yang berbeda-beda.

Shio-shio ini akan berganti setiap tahunnya.

Dan akan kembali ke shio yang sama setiap periode 12 tahun sekali.

Shio-shio tersebut selalu diikuti oleh elemen atau unsur yang melengkapinya.

Dalam kepercayaan perbintangan Tionghoa, elemen dibagi menjadi lima.

Di antaranya kayu, api, tanah, logam, dan air.

Tahun 2019 ini giliran shio babi dengan elemen tanah.

Datangnya tahun Babi Tanah lagi-lagi ternyata juga memiliki filosofi tertentu, tak hanya sekedar pergantian shio dan elemen belaka.

Lambang Shio Babi terpasang di depan Balai Kota Solo.
Lambang Shio Babi terpasang di depan Balai Kota Solo. (TribunStyle.com/Desi Kris)

Karena selalu memiliki makna, tak jarang shio dan elemen setiap tahunnya menjadi ajang untuk menentukan peruntungan setahun ke depan.

"Kalau dihubungan dengan kita pribadi orang itu kan lahir gak bisa milih, tapi hidup kan pilihan kalau sudah milih kan harus siap dan harus selalu optimis jd dengan Babi Tanah kalau kita melihat lahiriah Babi tentunya Babi ini ya suatu binatang yang mungkin cukup ulet," ucap Sumartono.

"Dalam arti semua pasti ada positif negatifnya, makanya kalau ini shio Babi di tahun Babi ini tentunya ada berkahnya tapi juga ada sesuatu yang mungkin kurang pas," lanjutnya.

Apapun shio dan elemennya, ada baiknya kita selalu semangat dalam menatap masa depan kehidupan.

Selamat Tahun Baru Imlek 2057.

Gong Xi Fa Cai!

(Tim Liputan/TribunSolo.com)

Penulis: Delta Lidina
Editor: Wahid Nurdin
Sumber: TribunStyle.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved