33 Orang Terjangkit DBD, Pemkot Solo akan Terjunkan Juru Pemantau Jentik ke Setiap RT

Penderita Demam Berdarah Dengue (DBD) bertambah menjadi 33 orang pada pekan ke-11 2019.

33 Orang Terjangkit DBD, Pemkot Solo akan Terjunkan Juru Pemantau Jentik ke Setiap RT
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
Ilustrasi pasien Demam Berdarah Dengue (DBD). 

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Eka Fitriani

TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Penderita Demam Berdarah Dengue (DBD) bertambah menjadi 33 orang pada pekan ke-11 2019.

Sebagai langkah antisipasi merebaknya penderita DBD, Pemkot Solo akan mengoptimalkan gerakan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dengan menerjunkan juru pemantau jentik (jumantik) di setiap RT.

“Kami juga memajukan jadwal pemberian larvasida dari semula April-Mei dan Oktober-November menjadi Maret-April," kata Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kota (DKK) Solo, Efi Setyawati Pertiwi, Rabu (20/3/2019) sore.

"Masyarakat juga kami sarankan untuk menanam tanaman penghalau nyamuk seperti lavender, serai wangi hingga lemon balm,” papar dia.

Efi mengatakan sebanyak 33 kasus DBD melebihi akumulasi kasus selama setahun pada 2018.

Puluhan kasus mayoritas menyerang anak usia sekolah dasar (SD) atau di bawah 10 tahun.

Pekan ke-11 Tahun 2019, Jumlah Penderita DBD di Kota Solo Melonjak Hingga 33 Orang

Hal tersebut karena angka kepadatan jentik nyamuk (house index) di sekolah yang seharusnya 0 persen, saat ini masih 5,2 persen.

Temuan 33 kasus itu menyebar di 12 kelurahan dengan angka tertinggi di Kelurahan Mojosongo dan Kadipiro (daerah endemis), masing-masing 11 dan 6 kasus.

Sedangkan di Kelurahan Pajang ditemukan sebanyak 1 kasus, 2 kasus Penumping, 2 kasus di Panularan, 1 kasus di Gajahan, dan 2 kasus di Purwosari.

Kemudian Kelurahan Kerten terdapat 2 kasus, Nusukan ditemukan 1 kasus, Sumber sebanyak  3 kasus, dan Kepatihan Wetan serta Semanggi masing-masing 1 kasus.

Sebelumnya, Siti Wahyuningsih mengatakan pada 2018 tercatat 24 kasus, warga yang positif terjangkit DBD.

Angka tersebut turun drastis dari 2017 sebanyak 146 kasus.

Sementara pada 2016 angkanya pernah menyentuh 756 kasus.

Dari 700-an kasus itu, 15 penderita dinyatakan meninggal dunia. (*)

Penulis: Eka Fitriani
Editor: Noorchasanah Anastasia Wulandari
Sumber: TribunSolo.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved